Hidayatullah.com – Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi mengatakan pada Rabu bahwa Mesir kehilangan pendapatan langsung hingga 9 miliar dolar AS dari Terusan Suez selama dua tahun karena ketidakstabilan regional akibat dengan perang genosida ‘Israel’ di Jalur Gaza, lapor Anadolu.
Berbicara di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, yang dimulai Senin di Swiss dan berlangsung hingga 23 Januari, Sisi mengatakan jalur pelayaran Terusan Suez sangat terdampak oleh konflik tersebut.
“Kami kehilangan 9 miliar dolar AS pendapatan langsung sebagai akibat dari peristiwa ini,” dari Oktober 2023, ketika perang dimulai, hingga kesepakatan gencatan senjata tercapai di Sharm el-Sheikh Oktober lalu, katanya.
Sisi mengatakan Mesir telah memainkan “peran positif” dalam mempromosikan stabilitas di wilayah yang bergejolak, khususnya di Gaza.
Presiden Mesir menekankan bahwa masalah Palestina “menempati urutan teratas dalam daftar prioritas di Timur Tengah.”
“Kami menekankan perlunya memperkuat gencatan senjata di Gaza dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk,” tambahnya.
Gencatan senjata yang tak pernah terjadi
Dengan dukungan AS, entitas zionis ‘Israel’ melancarkan perang mematikan di Gaza pada Oktober 2023, membunuh lebih dari 71.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, tetapi ‘Israel’ terus melanggarnya dengan rutin melancarkan serangan setiap hari, menyebabkan 483 warga Palestina syahid dan melukai 1.294 lainnya.
Penjajah ‘Israel’ telah memblokir masuknya sejumlah makanan, obat-obatan, perlengkapan medis, bahan-bahan untuk tempat tinggal, dan rumah prefabrikasi yang telah disepakati ke Gaza, tempat sekitar 2,4 juta warga Palestina tinggal, termasuk sekitar 1,5 juta pengungsi yang menghadapi kondisi menyedihkan.
Sisi menyambut baik pengumuman AS tentang dimulainya fase kedua perjanjian gencatan senjata Gaza.
Fase ini mencakup pembentukan struktur pemerintahan transisi, dan penarikan pasukan ‘Israel’ lebih lanjut serta seruan kepada Hamas untuk melucuti senjata.
Ia juga menegaskan kembali komitmen Mesir untuk tidak campur tangan dalam urusan internal negara lain, dan menyerukan pelestarian negara Suriah serta memastikan bahwa “tidak seorang pun dikecualikan dari dialog dan partisipasi politik.”




