Hidayatullah.com— Sebuah laboratorium kokain di pesisir Pasifik Kolombia meledak, hari Jumat (23/1/2024), kata pihak kepolisian.
Ledakan terjadi di wilayah Narino, wilayah penghasil kokain di bagian barat Kolombia yang dihuni suku asli Awa dan banyak kelompok bersenjata beroperasi. Delapan orang ikut terluka dalam peristiwa itu.
Para korban bekerja untuk National Coordinator Bolivarian Army, sebuah faksi sempalan dari kelompok gerilya FARC yang sekarang sudah bubar.
Hasil penyelidikan awal menunjukkan sebuah tabung gas meledak saat dipergunakan untuk membuat kokain, kata Kolonel John Jairo Urrea kepada media lokal lewat sambungan video seperti dilansir AFP.
“Disebabkan kesalahan manusia dan cara penanganan tabung gas… tempat itu meledak dan terbakar dalam hitungan detik,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.
NCBA menolak kesepakatan damai tahun 2016 dengan FARC yang mengakhiri puluhan tahun pemberontakan mereka, dan masih berunding dengan pemerintah sayap kiri pimpinan Presiden Gustavo Petro.
Daerah di mana ledakan itu terjadi merupakan bagian penting dalam perdagangan dan penyelundupan kokain ke Amerika Serikat, dan kelompok-kelompok penyelundup memperkuat kendali mereka atas daerah itu dengan bantuan kartel-kartel Meksiko.
Presiden Daniel Noboa dari negara tetangga Ekuador hari Rabu mengumumkan pemberlakuan tarif 30 persen atas Kolombia. Dia menuding pemerintahan Petro tidak mengambil tindakan yang mencukupi guna mengatasi penyelundupan dan perdagangan narkoba di sepanjang perbatasan kedua negara.
Petro membalas dengan tarif yang sama, dan membela usaha yang telah dilakukannya dalam menangani masalah itu.*




