Hidayatullah.com— Australia membatalkan visa seorang influencer Israel yang mengkampanyekan pesan anti-Islam, mengatakan bahwa negaranya tidak menerima kedatangan pengunjung yang akan menyebarkan kebencian.
Sammy Yahood, yang di media sosial kerap mengatakan bahwa Islam adalah “ideologi menjijikan”, hari Senin (26/1/2026) mengatakan bahwa visanya dibatalkan sebelum dia terbang dari Israel.
Namun Yahood tetap terbang ke Abu Dhabi, tetapi dia dilarang naik pesawat lanjutan untuk menuju Australia.
“Ini adalah sebuah kisah tentang tirani, penyensoran dan kontrol,” tulisnya di platform X.
Menteri Dalam Negeri Tony Burke dalam sebuah pernyataan hari Selasa (27/1/2026) kepada AFP mengatakan bahwa orang-orang yang ingin mengunjungi Australia harus mengajukan permohonan visa yang sesuai dan datang dengan alasan yang benar.
“Menyebarkan kebencian bukanlah alasan yang baik untuk datang,” ujarnya.
Australia memperketat UU anti-kebencian bulan ini menyusul insiden penembakan massal 14 Desember dalam acara perayaan Hanukkah di Pantai Bondi yang menewaskan 15 orang.
Visa Yahood dikabarkan dibatalkan dengan UU yang sama yang di masa lalu dipakai untuk menolak visa orang-orang yang menyebarkan kebencian terhadap suatu kelompok atau kaum.
Australian Jewish Association, yang mengundang Yahood untuk berbicara di acara mereka, “mengecam keras” memgecam kebijakan pemerintahan PM Anthony Albanese tersebut.
Mereka mengkritik pembatalan visa untuk sejumlah orang Yahudi lain, termasuk politisi kanan-jauh Simcha Rothman yang diblokir tahun lalu.
“… Terlepas dari kengerian pembantaian Bondi dan permintaan maaf pemerintah yang terlambat, Pemerintah Albanese tidak berubah dan tidak pernah tulus,” kata pimpinan eksekutif asosiasi itu Robert Gregory dalam sebuah pernyataan.*




