Hidayatullah.com– Perdana Menteri Italia Georgia Meloni, hari Rabu (28/1/2026), meninjau kota kecil Niscemi di Sisilia setelah longsor besar, yang dipicu hujan deras selama beberapa hari, merontokkan tebing di sana, menghancurkan rumah-rumah dan memaksa lebih dari 1.500 orang untuk dievakuasi.
Longsor sepanjang sekitar 4 kilometer itu mengharuskan pihak berwenang memberlakukan “zona dilarang masuk” selebar 150 meter.
“Terus terang, ada sejumlah rumah yang terletak di bibir tebing yng longsor yang sudah pasti tidak dapat dihuni lagi, karena itu kami perlu bekerja sama dengan pihak wali kota untuk menemukan tempat relokasi permanen bagi keluarga-keluarga yang terdampak,” kata Fabio Ciciliano, kepala badan perlindungan sipil, seperti dilansir DW.
Pihak berwenang memperingatkan banyak warga yang bermukim di daerah itu yang tidak dapat pulang kembali ke tempat tinggalnya, karena tanah yang basah di sana masih belum stabil.
“Seluruh bukit runtuh ke dataran rendah Gela di bawahnya,” kata Ciciliano.
Banyak kendaraan dan bangunan terseret longsor sekitar 20 meter ke bawah lereng, sementara beberapa bangunan tampak menggantung di bibir tebing di atas Gela yang tanahnya runtuh.
Pada hari Senin (26/1/2026), pemerintah menyatakan status darurat untuk daerah itu dan mengalokasikan dana awal tanggap bencana sebesar €100 juta ($120 juta), sementara pejabat daerah setempat memperkirakan total kerugian bisa mencapai €2 miliar.
Bencana itu menyulut perdebatan politik tentang pendirian bangunan di daerah berisiko tinggi.
Niscemi berdiri di atas tanah berpasir dan lempung. Kondisi ini membuat bangunan menjadi mudah kehilangan stabilitas saat hujan deras. Ini bukan pertama kalinya terjadi bencana tanah longsor masif di Niscemi. Pada tahun 1997 sebanyak 400 orang harus dievakuasi dari kota kecil itu ketika tanah bergerak kemudian runtuh.*




