Hidayatullah.com– Ratusan veteran Denmark, banyak yang pernah berperang bersama pasukan Amerika Serikat, menggelar unjuk rasa senyap, hari Sabtu (31/1/2026), di depan Kedutaan Besar AS di Kopenhagen, sebagai protes terhadap pemrintahan Presiden Donald Trump yang mengancam akan mengambil alih Greenland dan meremehkan kontribusi mereka dalam pertempuran.
“Denmark senantiasa berdiri berdampingan dengan Amerika Serikat — dan kami juga hadir di zona-zona krisis dunia ketika AS meminta kami untuk hadir. Kami merasa kecewa dan dipermalukan oleh pemerintahan Trump, yang sengaja mengabaikan peran Denmark dalam pertempuran bersama AS,” kata Asosiasi Veteran Denmark & Dukungan Veteran dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP.
“Kata-kata tidak dapat menggambarkan seberapa besar hal itu menyakiti kami, bahwa kontribusi dan kontribusi Denmark dalam pertempuran demi demokrasi dilupakan begitu saja di Gedung Putih,” kata pernyataan itu.
Para veteran awalnya berkumpul di sebuah monumen peringatan para prajurit Denmark yang gugur di medan tempur, kemudian berjalan mendekati gedung Kedutaan AS, di mana mereka mengheningkan cipta selama lima menit masing-masing untuk angkatan darat, angkatan udara, angkatan laut, basarnas, serta kepolisian Denmark.
Veteran Denmark sangat marah dengan retorika-retorika Gedung Putih berkaitan dengan Greenland, yang merupakan teritori dari Denmark yang merupakan sekutu NATO. Mereka juga sangat keberatan dengan klaim Trump bahwa Denmark tidak mampu melindungi kepentingan-kepentingan Barat di kawasan Arktik atau Kutub Utara.
Sebanyak empat puluh empat prajurit Denmark tewas di Afghanistan, angka kematian perkapita tertinggi di kalangan pasukan koalisi pimpinan AS yang dikerahkan ke sana sejak 2001 menyusul peristiwa 9/11 yang meruntuhkan gedung WTC di New York City. Delapan prajurit Denmark lain tewas di Iraq.
Ketegangan meningkat pada hari Selasa (27/1/2026) ketika 44 bendera Denmark – satu untuk setiap prajurit Denmark yang tewas di Afghanistan – yang ditempatkan di depan gedung Kedutaan AS disingkirkan oleh staf kedutaan itu.
Departemen AS kemudian mengatakan bahwa, sebagaimana aturan umum, staf penjagaan membereskan apa-apa yang ditinggalkan oleh demonstran. Bendera-bendera itu kemudian diserahkan kembali kepada pihak yang meninggalkannya di tempat itu.*




