Hidayatullah.com– Tentara Libanon harus diberikan alat untuk melucuti persenjataan kelompok Hizbullah, kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot kepada AFP menjelang kedatangannya ke Beirut pada hari Jumat (6/2/2026).
“Visi Prancis untuk Libanon adalah sebuah negara berkedaulatan, kuat, yang memonopoli kepemilikan senjata,” kata Barrot.
“Langkah pertama untuk memenuhi misi ini adalah memberikan Angkatan Bersenjata Libanon alat untuk melanjutkan pekerjaannya melucuti Hizbullah,” imbuh Menlu Prancis itu, yang negaranya akan menjadi tuan rumah sebuah konferensi untuk mendukung militer Libanon pada 5 Maret.
Hizbullah menjadi lemah usai peperangan dengan Israel tahun lalu, yang berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata. Berdasarkan kesepakatan itu, tentara Libanon pada bulan Januari 2026 mengumumkan bahwa pihaknya sudah menuntaskan tahap pertama dari rencana pemerintah untuk melucuti Hizbullah, mencakup area antara Sungai Litani dan perbatasan Israel sekitar 30 kilometer ke arah selatan.
“Pemerintah Libanon sudah mengemban tanggung jawab dengan meluncurkan dan menuntaskan tahap pertama dari rencana pelucutan ini,” kata Barrot.
“Tahap kedua sekarang harus dimulai, dan rencana yang berkaitan dengan tahap ini harus dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan, dan sebisa mungkin sebelum konferensi digelar,” lanjutnya.
Tahap kedua akan mencakup area antara Sungai Litani dan Sungai Awali, sekitar 40 kilometer dari Beirut ke arah selatan.Hizbullah sejauh ini menolak untuk menyerahkan persenjataannya di daerah utara Litani.
Dalam kunjungannya ke Beirut hari Jumat ini Menteri Luar Negeri Prancis itu dijadwalkan bertemu dengan para pejabat tinggi Libanon, yang merupakan penutup dari lawatannya ke kawasan itu setelah mengunjungi Suriah dan Iraq.*




