Kelompok Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS) di Maroko secara terbuka mengajak masyarakat memperketat aksi boikot selama bulan suci.
“Selama Ramadhan, mari kita tingkatkan kampanye boikot untuk mencegah musuh Israel dan para pendukungnya mengambil keuntungan dari meja iftar,” seru BDS Morocco dalam pernyataannya dikutip The New Arab.
Organisasi itu juga memperingatkan praktik pelabelan ulang untuk menghindari boikot. “Kami memperingatkan bahwa beberapa eksportir kurma Zionis mengemasnya di bawah merek Palestina-Yordania atau mengemas ulangnya dengan label lokal,” kata mereka, menegaskan pentingnya kewaspadaan konsumen.
Di Indonesia, imbauan serupa muncul melalui berbagai laporan media yang menyoroti daftar produk kurma yang perlu diwaspadai. Palestine Campaign bahkan menyerukan, “Pada Ramadhan ini, jangan membeli kurma Israel. Dukung kemerdekaan Palestina!”
Secara internasional, gerakan boikot tidak hanya menyasar kurma, tetapi juga jaringan ritel multinasional yang kerap meningkatkan promosi selama Ramadhan untuk mendorong konsumsi. Kampanye ini menunjukkan bahwa isu rantai pasok pangan kini menjadi bagian dari tekanan ekonomi terhadap Israel di berbagai negara.
Sejumlah laporan menyebut sebagian kurma Medjool populer ditanam di Israel atau permukiman ilegal di tanah Palestina, sehingga memicu kritik dari aktivis. Konsumen pun diminta memeriksa label asal produk sebelum membeli.
Kurma Made In Israel
Beberapa perusahaan yang kerap masuk daftar boikot antara lain Hadiklaim, Mehadrin, Agrexco, Arava, Edom, dan MTex, yang disebut sebagai pengekspor kurma dari Israel maupun permukiman haram hasil merampok tanah Palestina.
Selain itu, merek dagang seperti King Solomon, Jordan River, Bomaja, Desert Diamond, hingga Fancy Medjoul juga tercantum dalam berbagai daftar produk yang perlu dihindari.
Para aktivis juga menyarankan konsumen menghindari produk dengan kode batang 729, label “Made in Israel”, atau keterangan produksi di “West Bank” dan Jordan Valley sebagai langkah sederhana memastikan asal barang.
Meski demikian, pengamat perdagangan menilai efektivitas boikot sangat bergantung pada kesadaran konsumen dan transparansi rantai distribusi.
Di sisi lain, kampanye ini turut mendorong minat terhadap kurma alternatif, termasuk produk yang dipasarkan sebagai hasil perdagangan adil dari petani Palestina.
Masuknya bulan Ramadhan yang identik dengan konsumsi kurma, pilihan konsumen diperkirakan akan kembali menjadi arena tarik-menarik antara pertimbangan etika, solidaritas politik, dan kebutuhan pasar global.*




