Hidayatullah.com– Seorang wanita di bagian utara Bangladesh meninggal dunia bulan lalu setelah terinfeksi virus mematikan Nipah, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Wanita tersebut, berusia antara 40 dan 50 tahun, menunjukkan gejala ko sisten dengan infeksi virus Nipah pada 21 Januari, seperti demam dan sakit kepala diikuti dengan keluar banyak ludah, disorientasi serta kejang-kejang, kata WHO hari Jumat (6/2/2026) seperti dilansir Independent.
Wanita itu menghembuskan napas terakhir sepekan kemudian dan dikonfirmasi terinfeksi virus Nipah sehari setelahnya, menurut pihak berwenang.
Dia tidak memiliki riwayat perjalanan tetapi mengkonsumsi air nira mentah. Semua 35 orang yang kontak dengannya saat ini sedang dipantau dan sudah dites negatif virus Nipah, dan sampai saat ini belum ada kasus lain yang terdeteksi, kata WHO.
Kasus Nipah di Bangladesh ini menyusul kasus yang ditemukan di India. Negara tetangga itu bulan lalu mengatakan sekitar 200 orang dikarantina setelah sedikitnya dua kasus Nipah ditemukan di negara bagian Bengal Barat yang berbatasan dengan Bangladesh.
Virus Nipah sampai sekarang belum ada vaksin atau obatnya dan dianggap sebagai patogen berisiko tinggi oleh WHO. Para pakar mengatakan penularan antarmanusia sangat jarang dan biasanya terjadi ketika virus tertumpah dari kelelawar yang seringkali mencemari buah-buahan.
Sebanyak 75 persen bisa berujung fatal, tetapi tidak menular dari manusia ke manusia lain. Penyintasnya kemungkinan mengalami dalapak neurologis jangka panjang seperti sering kejang-kejang atau perubahan pada kepribadian, menurut UK Health Security Agency.
Dalam kasus yang jarang terjadi, ensefalitis dilaporkan kambuh berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah infeksi awal, baik karena kekambuhan atau reaktivasi virus.
WHO pada hari Jumat mengatakan bahwa risiko penyebaran penyakit saat ini masih tergolong rendah dan bahwa mereka tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan berdasarkan berdasarkan situasi dan kondisi saat ini.*




