Hidayatullah.com– Pengadilan banding di Jepang mengukuhkan keputusan perintah pembubaran gereja kontroversial Gereja Unifikasi (Unification Church), lapor media setempat.
Tahun lalu, pengadilan distrik di Tokyo memerintahkan supaya gereja tersebut dibubarkan setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jepang menuding organisasi itu memanipulasi para pengikutnya supaya memberikan donasi dalam jumlah besar.
Hari Rabu (4/3/2026), Pengadilan Tinggi Tokyo menolak banding yang diajukan pihak Gereja Unifikasi dan menolak argumentasinya bahwa donasi tersebut merupakan bagian dari aktivitas keagamaan yang sah, lansir BBC.
Gereja itu, yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Moonies”, mendapatkan sorotan tajam setelah insiden pembunuhan mantan perdana menteri Shinzo Abe pada 2022.
Pelaku penembakan Abe, Tetsuya Yamagami, mengatakan bahwa dirinya memendam amarah terhadap bekas PM Jepang itu karena keterkaitannya dengan Unification Church, yang sudah membuat keluarganya bangkrut disebabkan donasi dalam jumlah besar yang diberikan oleh ibunya kepada gereja.
Unification Church merupakan organisasi keagamaan pertama di Jepang yang diberikan perintah pembubaran.Perintah pembubaran dari pengadilan berarti gereja itu dicabut status pengecualiannya dari pajak dan diharuskan melikuidasi aset-asetnya, tetapi masih diperbolehkan untuk beroperasi di Jepang.
Sekarang setelah gereja kalah dalam pengajuan banding pertamanya, perintah pembubaran akan diberlakukan segera, lapor media setempat. Akan tetapi, keputusan Pengadilan Tinggi Tokyo itu masih bisa digugat ke Mahkamah Agung.
Sebelum pembunuhan Abe, Gereja Unifikasi sudah menuai kontroversi akibat ajaran-ajarannya. Pendirinya, seorang pria Korea Selatan yang sekarang sudah meninggal dunia bernama Sun Myung Moon, dipuja di kalangan pengikutnya sebagai seorang mesias (Al Masih).
Menyusul pembunuhan Abe, hasil investigasi menunjukkan keterkaitan Unification Church dengan banyak politisi Jepang dari kalangan konservatif.
Tim penyidik juga menemukan bahwa gereja itu memaksa para pengikutnya untuk membeli barang-barang mahal dengan cara mengeksploitasi ketakutan mereka akan kesejahteraan spiritualnya.*




