Hidayatullah.com– Eropa terancam menghadapi kekurangan roket untuk meluncurkan satelit-satelitnya pada akhir dekade ini karena permintaan akses ke ruang angkasa meningkat tajam, kata pimpinan European Space Agency.
Ambisi Eropa untuk memperbanyak satelit memberikan tekanan yang besar kepada benua itu untuk meningkatkan kapasitas peluncurannya dan mengurangi ketergantungannya terhadap pihak asing.
Josef Aschbacher, direktur umum European Space Agency (ESA), mengatakan kawasan itu sedang menuju krisis seiring dengan beroperasinya konstelasi satelit baru dan program luar angkasa besar-besaran.
Saat ini ESA memperkirakan Eropa akan menghadapi kelangkaan roket peluncur pada sekitar tahun 2020, kata Aschbacher kepada Financial Times dalam wawancara yang dipublikasikan pekan ini seperti dilansir RFI Jumat (14/8/2026).
“Apabila kita hitung semua satelit yang kita perlu luncurkan dari konstalasi dan misi saat ini dan yang direncanakan … kita melihat adanya peningkatan kebutuhan peluncuran sekitar tahun 2029, 2030, 2031,” katanya.
Peringatan itu disampaikan ESA di saat pemerintah negara-negara Eropa giat meingkatkan investasi dalam satelit-satelit untuk keperluan komunikasi, navigasi, obesrvasi Bumi dan pertahanan.
Salah satu proyek terbesar adalah Iris2, konstalasi satelit internet aman yang direncanakan Uni Eropa, yang dijadwalkan akan mulai digarap pada 2029.
Uni Eropa juga berencana memperluas sistem navigasi satelit Galileo, serta program obeservasi Bumi Copernicus.
Sejumlah negara Eropa, yang dipimpin oleh Jerman, juga sedang mengembangkan konstalasi satelit mereka sendiri untuk keperluan sipil maupun militer.
Permintaan yang meningkat tajam itu masih belum bisa diimbangi oleh kapasitas peluncurannya.
Ariane 6, roket kelas berat Eropa yang baru, secara bertahap meningkatkan produksinya setelah melakukan peluncuran perdana pada Juli 2024, sementara roket yang lebih kecil Vega C kembali beroperasi pada akhir tahun itu.
Pada tahun 2025, Eropa melakukan peluncuran satelit tujuh kali, empat menggunakan Ariane 6 dan tiga menggunakan Vega C, menurut ESA.
Angka itu masih jauh di bawah SpaceX yang melakukan 170 peluncuran dan mengorbitkan sekitar 2.500 satelit, menurut data US Federal Aviation Administration.*




