Hidayatullah.com—Langkah militer Amerika Serikat bersama Israel dalam menyerang Iran menghadapi minimnya dukungan, baik dari sekutu internasional maupun dari dalam negeri Amerika sendiri.
Sejumlah negara Eropa memilih tidak terlibat dalam operasi militer tersebut. Jerman menegaskan tidak akan berpartisipasi karena konflik ini bukan mandat bersama NATO maupun Uni Eropa, sebagaimana dilaporkan Reuters (16 Maret 2026).
Sikap serupa ditunjukkan Spanyol yang menolak keterlibatan militer dan tidak mengizinkan penggunaan pangkalan untuk operasi terkait Iran. Madrid memilih mendorong de-eskalasi, menurut Reuters (16 Maret 2026).
Sementara itu, Prancis mengambil posisi independen dan tidak ikut dalam serangan. Italia dan Norwegia juga dilaporkan tidak terlibat langsung dan lebih menekankan penyelesaian diplomatik, sebagaimana dicatat The Guardian (16 Maret 2026).
Di Asia, Jepang memilih bersikap hati-hati dan tidak mendukung eskalasi militer yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta jalur energi global.
Sementara di Timur Tengah, negara-negara seperti Qatar, Kuwait, dan Oman cenderung menjaga jarak dan tidak secara terbuka mendukung operasi militer AS, dengan fokus pada upaya meredakan konflik.
Media The Guardian (16 Maret 2026) mencatat kekhawatiran luas bahwa konflik berpotensi berkembang menjadi perang regional yang lebih besar. Di Eropa bahkan muncul pandangan bahwa konflik ini “bukan perang kami”.
Tekanan Dalam Negeri
Di dalam negeri Amerika Serikat, tekanan politik juga mulai menguat. Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat, baik dari Partai Demokrat maupun Republik, menyuarakan keberatan terhadap aksi militer tersebut.
Mereka menilai serangan dilakukan tanpa persetujuan legislatif dan berpotensi melanggar mekanisme War Powers Resolution, yang mengatur kewenangan presiden dalam mengirim pasukan ke konflik bersenjata.
Sejumlah anggota parlemen bahkan mendorong pembahasan resolusi untuk membatasi kewenangan perang presiden, serta memperingatkan risiko Amerika terseret ke konflik besar di Timur Tengah tanpa strategi yang jelas.
Selain itu, aksi demonstrasi dilaporkan muncul di sejumlah kota besar seperti Washington D.C. dan New York City, dengan tuntutan agar pemerintah menghentikan eskalasi dan menghindari perang berkepanjangan. Situasi ini menunjukkan bahwa langkah militer Washington tidak hanya minim dukungan dari luar negeri, tetapi juga menghadapi tantangan politik di dalam negeri sendiri, di tengah meningkatnya risiko konflik yang lebih luas.*




