Hidayatullah.com – Pemerintah Swedia menjanjikan bantuan kemanusiaan sebesar 1,2 miliar SEK (sekitar $132 juta) untuk anak-anak di Jalur Gaza melalui UNICEF. Bantuan ini akan menjadi donasi terbesar dalam sejarah Swedia.
Pemerintah Swedia akan menyediakan 400 juta SEK (sekitar $44 juta), sementara Yayasan Akelius, yang didirikan oleh miliarder Roger Akelius, akan menyumbangkan 800 juta SEK (sekitar $88 juta).
Kerstin Engström, ketua yayasan, mengatakan pendanaan tersebut akan mendukung upaya pendidikan skala besar di Gaza. Ia menjelaskan bahwa membangun dan mengoperasikan sekolah untuk 250 siswa, termasuk guru dan makanan selama lima tahun, membutuhkan biaya beberapa juta kronor tergantung pada apakah menggunakan tenda atau bangunan permanen. Ia menambahkan bahwa yayasan tersebut berencana untuk mendanai sekitar 400 sekolah.
Akelius Foundation adalah yayasan amal yang didirikan oleh Roger Akelius pada tahun 2007, berdomisili di Siprus, dan merupakan pemilik 100% saham perusahaan real estat Akelius Residential Property AB.
Yayasan ini berfokus pada donasi pendidikan, bantuan kemanusiaan, dan mendukung anak-anak pengungsi/rentan, sering kali melalui kemitraan dengan organisasi seperti UNICEF, UNHCR, dan SOS Children’s Villages
Inisiatif ini bertujuan untuk mengatasi gangguan parah terhadap pendidikan di Gaza, yang diakibatkan oleh penjajah Israel. Sejauh ini Zionsi telah menghancurkan ratusan sekolah dan menyebabkan ribuan anak mengungsi.
Selain kontribusinya kepada UNICEF, pemerintah Swedia akan mengalokasikan 155 juta SEK lagi kepada badan-badan PBB lainnya yang bekerja di Gaza.
Para pejabat menggambarkan paket tersebut sebagai intervensi kemanusiaan besar yang berfokus pada anak-anak, pendidikan, dan layanan dasar.
Israel telah menghancurkan atau merusak hampir 90 persen sekolah di Jalur Gaza selama genosida, menyebabkan sistem pendidikan runtuh. Beberapa sekolah yang masih berdiri tidak lagi berfungsi sebagai tempat belajar. Sebaliknya, keluarga telah mengubahnya menjadi tempat penampungan yang penuh sesak karena pengungsian terus berlanjut di seluruh wilayah tersebut.
Sebuah laporan oleh Universitas Cambridge menggambarkan situasi tersebut sebagai “genosida pendidikan” yang disengaja. Laporan tersebut mengatakan bahwa kehancuran yang meluas telah membuat seluruh sistem pendidikan tidak berfungsi. Laporan tersebut mendokumentasikan pembunuhan ribuan siswa dan ratusan guru serta akademisi, menandai hilangnya satu generasi penuh kader pendidikan.*




