Hidayatullah.com– Seorang tentara penjaga perdamaian asal Prancis yang ditugaskan di UNIFIL tewas dan tiga lainnya terluka setelah patroli pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu ditembaki di wilayah selatan Libanon, dalam serangan yang disebut para pejabat sebagai serangan disengaja.
United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mengkonfirmasi bahwa seorang personelnya tewas dan tiga lainnya terluka – dua di antaranya serius – ketika mereka sedang berpatroli, lansir BBC Sabtu (18/4/2026).
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyalahkan Hizbullah atas serangan itu. Sementara kelompok dukungan Iran itu membantah terlibat dalam serangan tersebut.
Insiden terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di bagian selatan Libanon, di mana personel UNIFIL menghadap risiko yang lebih tinggi sejak kembali pecah perang antara Hizbullah dan Israel pada 2 Maret.
Gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah berlaku mulai 16 April. Amerika Serikat, sekutu Zionis yang mengumumkan kesepakatan itu, mendesak Hizbullah untuk mematuhinya.
“Semua petunjuk mengarahkan bahwa yang bertanggung jawab atas serangan ini adalah Hizbullah,” kata Macron. “Prancis menuntut pihak berwenang Libanon segera menangkap para pelakunya dan memikul tanggung jawab mereka bersama dengan Unifil.”
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin mengatakan bahwa personel tersebut sedang menjalankan tugas membuka kembali akses ke sebuah posisi UNIFIL yang terputus akibat pertempuran belum lama ini ketika mereka tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang bersenjata dari jarak sangat dekat.
Vautrin menambahkan bahwa personel yang tewas tersebut tertembak langsung oleh peluru yang berasal dari senjata api kecil dan sempat ditarik oleh rekan-rekannya, yang tidak berhasil menyelamatkannya.
UNIFIL mengatakan patroli tesebut sedang bertugas membersihkan jalan akses ke salah satu posisinya dari ranjau yang dipasang di sepanjang jalan di desa Ghanduriyah. Tim tersebut ditembaki oleh para pelaku yang digambarkan sebagai para aktor non-negara dan mengecam serangan yang disinyalir “disengaja” itu.
Angkatan Bersenjata Libanon mengatakan insiden itu menyusul baku tembak dengan sejumlah orang bersenjata, menambahkan bahwa pihaknya bekerja sama erat dengan UNIFIL selama “fase sensitif” di bagian selatan Libanon itu.
Presiden Libanon Joseph Aoun mengecam serangan itu dan mengatakan kepada Macron dalam pembicaraan lewat telepon bahwa pelakunya akan diseret ke pengadilan.
Perdana Menteri Nawaf Salam juga memerintahkan untuk supaya dilakukan penyelidikan.
Hari Sabtu (18/4/2026) Hizbullah mengeluarkan pernyataan berisi sangkalan terhadap tudingan bahwa pihaknya sebagai pihak di balik serangan tersebut. Mereka meyebut tuduhan itu sebagai “terburu-buru” dan “tidak berdasar”.
Hizbullah menyeru supaya para sema pihak “tidak semena-mena dalam membuat tuduhan berkaitan dengan insiden itu, serta menunggu hasil investigasi oleh tentara Libanon guna mengetahui duduk permasalahannya.”
Hizbullah juga mendesak baik UNIFIL maupun tentara Libanon untuk tetap berkoordinasi dengan pihak-pihak di dalam negeri perihal “manuver-manuver dalam dalam situasi genting saat ini.
Akhir bulan Maret, tiga tentara penjaga perdamaian asal Indonesia terbunuh dalam insiden terpisah – ledakan yang menghancurkan sebuah kendaraan UNIFIL dan akibat serangan proyektil sehari sebelumnya.
UNIFIL memperingatkan bahwa berdasarkan hukum internasional “semua aktor” berkewajiban untuk memastikan “keselamatan dan keamanan” para personel PBB, seraya menambahkan bahwa “serangan yang disengaja” atas personel penjaga perdamaian merupakan “pelanggaran berat” terhadap hukum kemanuasiaan internasional dan bisa tergolong ke dalam kejahatan perang.
UNIFIL dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada tahun 1978 menyusul invasi Zionis Israel terhadap bagian selatan wilayah Libanon, dengan mandat memastikan penarikan diri Israel, memulihka pedamaian dan membantu pemerintah Libanon untuk mendapatkan kembali kedaultannya di wilayah selatan tersebut.
Peran UNIFIL diperluas setelah perang tahun 2006 antara Israel dan Hizbullah, ketika Security Council Resolution 1701 memperkuat tanggung jawabnya dalam memantau gencatan senjata di sepanjang Blue Line – perbatasan de facto antara Libanon dan Israel – dalam koordinasi dengan militer Libanon.
Lebih dari 330 penjaga perdamian sudah terbunuh sejak misi itu dibentuk.*




