Hidayatullah.com– Rusia hari Selasa (12/5/2026) melakukan uji coba misil jarak jauh yang mampu membawa hulu ledak nuklir, beberapa bulan setelah traktat terakhir dengan Amerika Serikat yang membatasi persediaan senjata atomnya berakhir.
Kesepakatan New START antara Rusia dan Amerika Serikat berakhir pada bulan Februari, sehingga negara dengan kekuatan nuklir terbesar kedua itu terbebas dari pembatasan.
“Ini adalah sistem misil terkuat di dunia,” klaim Presiden Rusia Vladimir Putin setelah menerima laporan tentang keberhasilan peluncuran Sarmat, sebuah intercontinental ballistic missile (ICBM) atau rudal balistik antarbenua.
Putin mengatakan rudal tersebut dapat membawa hulu ledak lebih dari empat kali kekuatan yang dimiliki oleh militer negara Barat manapun, seraya menambahkan bahwa Sarmat akan bisa dikerahkan dalam “tugas tempur” pada akhir tahun ini, lansir AFP.
Sarmat, yang disebut sebagai “Satan II” oleh NATO, merupakan ICBM pertama yang diproduksi Rusia setelah berakhirnya era Uni Soviet dan termasuk rudal kelas “super berat”.
Putin mengatakan rudal itu mampu melesat sejauh 35.000 kilometer.
Meskipun Moskow dan Washington sepakat untuk menggelar kembali dialog militer tingkat tinggi tidak lama setelah New START berakhir, sampai sekarang belum ada tanda-tanda kesepakatan itu akan diperbarui atau diperpanjang.
Presiden AS Donald Trump berulang kali menekankan supaya traktat baru melibatkan China, yang persediaan senjata nuklirnya bertambah tetapi masih jauh lebih kecil dibandingkan Rusia atau AS.
Trump lebih banyak diam dalam menghadapi seruan Rusia untuk memperpanjang New START, yang ditandatangani pada 2010.Kedua negara berulang kali saling tuding tidak mematuhi kesepakatan itu.*




