Hidayatullah.com– Tiga relawan Palang Merah meninggal dunia di Republik Demokratik Kongo diduga karena terluar virus Ebola saat menangani mayat, kata organisasi tersebut.
Mereka diyakini tertular Ebola pada 27 Maret saat bekerja di Ituri, wilayah bagian timur RD Kongo, dalam sebuah proyek yang tidak terkait dengan virus tersebut, sebelum wabah di sana teridentifikasi, lansir BBC Sabtu (23/5/2026).
Para relawan iyu termasuk korban pertama yang diketahui dari wabah Ebola di RD Kongo, yang sejauh ini sudah menyebabkan 170 suspek kematian dan 750 suspek kasus.
International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC) mengatakan bahwa mereka meninggal setelah mengabdi kepada masyarakat “dengan keberanian dan rasa kemanusiaan”.
Alikana Udumusi Augustin, Sezabo Katanabo dan Ajiko Chandiru Viviane kala itu sedang bekerja di kota kecil Mongwalu, yang sekarang dianggap sebagai pusat wabah. Mereka meninggal dunia antara 5 dan 16 Mei.
Pakar kesehatan memperingatkan bahwa jasad pasien Ebola dapat menyebarkan virus karena cairan tubuh tetap sangat menular setelah kematian.
Wabah kali ini melibatkan varian Ebola yang langka, dikenal sebagai Bundibugyo, yang belum ada vaksin ampuh penangkalnya dan sepertiga dari mereka yang terjangkit meninggal dunia.
African Centres for Disease Control memperingatkan bahwa 10 negara lain di benua itu berisiko terkena wabah tersebut. Negara-negara tersebut yaitu Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Kenya, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, dan Zambia.
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus juga memperingatkan risiko di wilayah Afrika yang lebih luas tinggi, tetapi secara global risikonya masih tetap rendah .*




