Hidayatullah.com— Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Bagus Riyono, MA menjelaskan sejarah mengapa American Psychological Association (APA) menghapus homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa dan dianggap sebagai bentuk ‘normalisasi homoseksual’.
Bagus mengutip testimoni dari Dr. Nicolas Cumming –mantan presiden APA– bahwa gerakan feminisme memiliki pengaruh terhadap perubahan pandangan mengenai homoseksualitas di Amerika Serikat.
Ia menjelaskan bahwa gerakan feminisme berkembang ke berbagai aliran, salah satunya feminisme radikal yang tidak lagi sekadar memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengkritik sistem keluarga yang dianggap sebagai akar dari patriarki.
“Gerakan feminisme ini kemudian menjelma menjadi gay rights movement yang memperjuangkan perilaku homoseksual,” ujarnya kepada Hidayatullah.com, Sabtu (4/7/2026).
Menurut Bagus, perkembangan tersebut berlanjut pada dekade 1970-an ketika kelompok homoseksual mulai memiliki pengaruh di lingkungan American Psychological Association (APA).
“Pada tahun 1970-an, kelompok homoseksual ini bertambah banyak dan sebagian masuk ke dalam Asosiasi Psikologi Amerika/American Psychological Association (APA) dan berjuang untuk mengubah status homoseksual dari kondisi yang dianggap menyimpang menjadi sesuatu yang dianggap normal,” ujarnya.
Ia menyebut, gerakan homoseksual kemudian berpadu dengan ideologi gender hingga membentuk gerakan LGBT.
“Perpaduan antara gerakan feminisme, homoseksual, dan gender ini kemudian melebur menjadi gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, and Transgender),” ujarnya.
Presiden International Association of Muslim Psychologists ini juga menyoroti perkembangan gerakan tersebut di Amerika Serikat yang menurutnya berhasil memengaruhi kebijakan hukum mengenai perkawinan sesama jenis.
“Perjuangan dari gerakan LGBT ini semakin menguat dan pada tahun 2015, mereka berhasil memengaruhi Mahkamah Agung Amerika untuk melegalkan perkawinan sejenis,” ujar Kepala Islamic Psychology Research Group UGM ini.
Sebelumnya, BEM Fakultas Psikologi UI menjadi sorotan setelah mengunggah konten edukasi dalam segmen “Kastratalk” bertajuk “Eskalasi Kebermanfaatan” yang menyatakan homoseksualitas merupakan bagian normal dari keberagaman seksualitas manusia, bukan bentuk penyimpangan.
Dalam unggahan tersebut, BEM Psikologi UI menyebut anggapan homoseksualitas sebagai penyimpangan tidak tepat jika dilihat dari perspektif psikologi.
Mereka mengutip pernyataan American Psychological Association (APA) tahun 2008 yang menyebut tidak ada riset ilmiah yang mendukung anggapan bahwa homoseksualitas merupakan gangguan mental ataupun bentuk penyimpangan.
BEM Psikologi UI juga menyatakan bahwa orientasi homoseksual maupun heteroseksual merupakan bagian yang normal dan alami dari keberagaman seksualitas manusia.
Selain itu, BEM Psikologi UI menyampaikan bahwa sebagian besar individu tidak merasa dapat memilih orientasi seksualnya. Mereka mengajak masyarakat untuk tetap menghormati setiap individu meskipun memiliki pandangan berbeda terhadap isu tersebut.
Pada bagian akhir unggahan, BEM Psikologi UI menyampaikan pesan kepada kelompok queer bahwa setiap orang berhak hidup dengan aman, dihormati, dan menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut. Unggahan tersebut ditutup dengan kalimat, “You deserve to have a place here.”
Tak lama setelah menuai perdebatan di media sosial, unggahan tersebut diketahui telah dihapus dari akun resmi BEM Fakultas Psikologi UI. Meski dihapus, unggahan itu terus menuai tanggapan dan kritik.*




