Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan

Ahmad
Terakhir diupdate: 3 Juli 2026 22:33 10:33 pm
Ahmad
Dipublikasikan 3 Juli 2026 22:30
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Psikolog Roslina Verauli, M.Psi., Psi., membantah narasi yang sempat diunggah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) @bempsikoui yang belakangan menjadi sorotan usai mengunggah konten edukasi yang menyatakan bahwa homoseksualitas merupakan “bagian normal dari keberagaman seksualitas manusia”, bukan bentuk penyimpangan.

Menurutnya, pembahasan mengenai orientasi seksual tidak dapat disederhanakan hanya dengan mengacu pada panduan lembaga internasional seperti World Health Organization (WHO), American Psychological Association (APA), maupun Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Roslina mengatakan isu orientasi seksual merupakan persoalan yang kompleks karena dipengaruhi berbagai determinan, mulai dari aspek biologis, psikososial, hingga sosial-budaya yang hidup di masyarakat.

“Maklum, bahasan tentang orientasi seksual butuh hati-hati dengan melibatkan berbagai determinan. Tak hanya aspek biologi dan psikososial, juga aspek budaya khususnya terkait value dan sistem belief yang diyakini masyarakat di mana individu tinggal,” kata Roslina melalui unggahan di media sosial.

Alumnus Fakultas Psikologi UI angkatan 1995 sekaligus mantan anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Psikologi UI periode 1997–1998 itu menilai pendekatan terhadap orientasi seksual tidak bisa dilepaskan dari konteks masyarakat tempat seseorang hidup.

Baca Juga

Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal
Takuti Warga ‘Israel’, Netanyahu Pajang Wajah Para Pemimpin Muslim di Baliho Pemilu
Raja Yordania akan Melawat ke China
Kantor Perdana Menteri Pemerintah Kurdistan Diserang Drone
HUT ke-81 RI, MUI: Mari Jaga Moral Bangsa dari Penyimpangan Seksual

“Jadi, tak bisa hanya mengacu pada WHO, APA, atau DSM-5 dalam menanggapi apakah suatu orientasi dihayati normal atau dianggap sebagai penyimpangan. Mengingat aspek seksualitas butuh dipahami dari proses perkembangan seks (jenis kelamin), seksualitas, gender, love, dan relationship individu tanpa lari dari aspek sosial-budaya tempat ia tinggal,” ujarnya.

Roslina mengungkapkan dirinya mengetahui unggahan tersebut setelah menerima kiriman melalui pesan langsung (DM) yang merujuk pada unggahan akun @respons.media. Setelah melakukan penelusuran, ia mendapati konten yang dimaksud telah dihapus dari akun media sosial BEM Fakultas Psikologi UI.

Sebagai bentuk penjelasan atas pandangannya, Roslina menyusun rangkaian video berdurasi sekitar enam menit dalam format karusel. Ia menjelaskan format tersebut dipilih karena durasi video tidak memungkinkan diunggah sebagai reels.

Di akhir pernyataannya, Roslina berharap polemik serupa tidak kembali terjadi.

“Semoga, apa yang dialami oleh orangtua dari salah satu mahasiswa yang tertangkap basah menampilkan perilaku seksual sejenis di sebuah kampus, lantas menjadi viral, tak terulang di keluarga manapun,” tuturnya.

Gerakan Feminisme

Sementara itu, psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Bagus Riyono, MA. menjelaskan hubungan American Psychological Association (APA) dengan homoseksual yang ramai dibahas belakangan ini.

Bagus mengutip testimoni dari Dr. Nicolas Cumming –mantan presiden APA– bahwa gerakan feminisme memiliki pengaruh terhadap perubahan pandangan mengenai homoseksualitas di Amerika Serikat.

Ia menjelaskan bahwa gerakan feminisme berkembang ke berbagai aliran, salah satunya feminisme radikal yang tidak lagi sekadar memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengkritik sistem keluarga yang dianggap sebagai akar dari patriarki.

“Gerakan feminisme ini kemudian menjelma menjadi gay rights movement yang memperjuangkan perilaku homoseksual,” ujarnya.

Menurut Bagus, perkembangan tersebut berlanjut pada dekade 1970-an ketika kelompok homoseksual mulai memiliki pengaruh di lingkungan American Psychological Association (APA).

“Pada tahun 1970-an, kelompok homoseksual ini bertambah banyak dan sebagian masuk ke dalam Asosiasi Psikologi Amerika/American Psychological Association (APA) dan berjuang untuk mengubah status homoseksual dari kondisi yang dianggap menyimpang menjadi sesuatu yang dianggap normal.”

Ia menyebut, gerakan homoseksual kemudian berpadu dengan ideologi gender hingga membentuk gerakan LGBT.

“Perpaduan antara gerakan feminisme, homoseksual,, dan gender ini kemudian melebur menjadi gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, and Transgender),” ujarnya.

Bagus juga menyoroti perkembangan gerakan tersebut di Amerika Serikat yang menurutnya berhasil memengaruhi kebijakan hukum mengenai perkawinan sesama jenis.

“Perjuangan dari gerakan LGBT ini semakin menguat dan pada tahun 2015, mereka berhasil memengaruhi Mahkamah Agung Amerika untuk melegalkan perkawinan sejenis.”

Sebelumnya, BEM Fakultas Psikologi UI menjadi sorotan setelah mengunggah konten edukasi dalam segmen “Kastratalk” bertajuk “Eskalasi Kebermanfaatan” yang menyatakan homoseksualitas merupakan bagian normal dari keberagaman seksualitas manusia, bukan bentuk penyimpangan.

Dalam unggahan tersebut, BEM Psikologi UI menyebut anggapan homoseksualitas sebagai penyimpangan tidak tepat jika dilihat dari perspektif psikologi.

Mereka mengutip pernyataan American Psychological Association (APA) tahun 2008 yang menyebut tidak ada riset ilmiah yang mendukung anggapan bahwa homoseksualitas merupakan gangguan mental ataupun bentuk penyimpangan.

BEM Psikologi UI juga menyatakan bahwa orientasi homoseksual maupun heteroseksual merupakan bagian yang normal dan alami dari keberagaman seksualitas manusia.

Selain itu, BEM Psikologi UI menyampaikan bahwa sebagian besar individu tidak merasa dapat memilih orientasi seksualnya. Mereka mengajak masyarakat untuk tetap menghormati setiap individu meskipun memiliki pandangan berbeda terhadap isu tersebut.

Pada bagian akhir unggahan, BEM Psikologi UI menyampaikan pesan kepada kelompok queer bahwa setiap orang berhak hidup dengan aman, dihormati, dan menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut. Unggahan tersebut ditutup dengan kalimat, “You deserve to have a place here.” Tak lama setelah menuai perdebatan di media sosial, unggahan tersebut diketahui telah dihapus dari akun resmi BEM Fakultas Psikologi UI. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari BEM Fakultas Psikologi UI terkait alasan penghapusan unggahan tersebut maupun tanggapan atas kritik yang disampaikan Roslina Verauli.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Badan Eksekutif MahasiswaBEM Psikologi Universitas IndonesiaHeadlinehomoseksuallgbtpsikologRoslina VerauliUI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
Tulisan selanjutnya Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Masih Tahan Ratusan Syuhada Palestina untuk Dijadikan “Alat Tawar”

Berita
11 Agustus 2026 21:40
Bertemu Pimpinan US CENTCOM, PM Ali al-Zaidi Tegaskan Komitmen Mengakhiri Kehadiran Militer Amerika di Iraq
70 Ribu Warga Palestina Hadiri Shalat Jumat di Masjidil Aqsha, Ribuan Datang Sejak Subuh
DPR Kecam Dugaan Promosi Miras Pakai Ayat Alquran, Belajar dari Kasus Holywings
Menteri Ekstremis ‘Israel’ Desak Netanyahu Larang Presiden Palestina Kembali ke Tepi Barat

Terbaru

  • Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal
  • Takuti Warga ‘Israel’, Netanyahu Pajang Wajah Para Pemimpin Muslim di Baliho Pemilu
  • Raja Yordania akan Melawat ke China
  • Kantor Perdana Menteri Pemerintah Kurdistan Diserang Drone
  • HUT ke-81 RI, MUI: Mari Jaga Moral Bangsa dari Penyimpangan Seksual
  • Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Menjadi Agenda Utama
  • Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
  • Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah
  • 22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri
  • Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS

Mungkin Anda Juga Suka

Muhammadiyah Hidayatullah
Berita

Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Menjadi Agenda Utama

17 Agustus 2026 15:21
Berita

Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah

17 Agustus 2026 07:00
Berita

22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri

17 Agustus 2026 06:00
Berita

Iran Hadiahi Rp480 Juta Warganya yang Berhasil Tangkap atau Bunuh Tentara AS

17 Agustus 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?