Hidayatullah.com—Psikolog Roslina Verauli, M.Psi., Psi., membantah narasi yang sempat diunggah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) @bempsikoui yang belakangan menjadi sorotan usai mengunggah konten edukasi yang menyatakan bahwa homoseksualitas merupakan “bagian normal dari keberagaman seksualitas manusia”, bukan bentuk penyimpangan.
Menurutnya, pembahasan mengenai orientasi seksual tidak dapat disederhanakan hanya dengan mengacu pada panduan lembaga internasional seperti World Health Organization (WHO), American Psychological Association (APA), maupun Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
Roslina mengatakan isu orientasi seksual merupakan persoalan yang kompleks karena dipengaruhi berbagai determinan, mulai dari aspek biologis, psikososial, hingga sosial-budaya yang hidup di masyarakat.
“Maklum, bahasan tentang orientasi seksual butuh hati-hati dengan melibatkan berbagai determinan. Tak hanya aspek biologi dan psikososial, juga aspek budaya khususnya terkait value dan sistem belief yang diyakini masyarakat di mana individu tinggal,” kata Roslina melalui unggahan di media sosial.
Alumnus Fakultas Psikologi UI angkatan 1995 sekaligus mantan anggota Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Psikologi UI periode 1997–1998 itu menilai pendekatan terhadap orientasi seksual tidak bisa dilepaskan dari konteks masyarakat tempat seseorang hidup.
“Jadi, tak bisa hanya mengacu pada WHO, APA, atau DSM-5 dalam menanggapi apakah suatu orientasi dihayati normal atau dianggap sebagai penyimpangan. Mengingat aspek seksualitas butuh dipahami dari proses perkembangan seks (jenis kelamin), seksualitas, gender, love, dan relationship individu tanpa lari dari aspek sosial-budaya tempat ia tinggal,” ujarnya.
Roslina mengungkapkan dirinya mengetahui unggahan tersebut setelah menerima kiriman melalui pesan langsung (DM) yang merujuk pada unggahan akun @respons.media. Setelah melakukan penelusuran, ia mendapati konten yang dimaksud telah dihapus dari akun media sosial BEM Fakultas Psikologi UI.
Sebagai bentuk penjelasan atas pandangannya, Roslina menyusun rangkaian video berdurasi sekitar enam menit dalam format karusel. Ia menjelaskan format tersebut dipilih karena durasi video tidak memungkinkan diunggah sebagai reels.
Di akhir pernyataannya, Roslina berharap polemik serupa tidak kembali terjadi.
“Semoga, apa yang dialami oleh orangtua dari salah satu mahasiswa yang tertangkap basah menampilkan perilaku seksual sejenis di sebuah kampus, lantas menjadi viral, tak terulang di keluarga manapun,” tuturnya.
Gerakan Feminisme
Sementara itu, psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Bagus Riyono, MA. menjelaskan hubungan American Psychological Association (APA) dengan homoseksual yang ramai dibahas belakangan ini.
Bagus mengutip testimoni dari Dr. Nicolas Cumming –mantan presiden APA– bahwa gerakan feminisme memiliki pengaruh terhadap perubahan pandangan mengenai homoseksualitas di Amerika Serikat.
Ia menjelaskan bahwa gerakan feminisme berkembang ke berbagai aliran, salah satunya feminisme radikal yang tidak lagi sekadar memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga mengkritik sistem keluarga yang dianggap sebagai akar dari patriarki.
“Gerakan feminisme ini kemudian menjelma menjadi gay rights movement yang memperjuangkan perilaku homoseksual,” ujarnya.
Menurut Bagus, perkembangan tersebut berlanjut pada dekade 1970-an ketika kelompok homoseksual mulai memiliki pengaruh di lingkungan American Psychological Association (APA).
“Pada tahun 1970-an, kelompok homoseksual ini bertambah banyak dan sebagian masuk ke dalam Asosiasi Psikologi Amerika/American Psychological Association (APA) dan berjuang untuk mengubah status homoseksual dari kondisi yang dianggap menyimpang menjadi sesuatu yang dianggap normal.”
Ia menyebut, gerakan homoseksual kemudian berpadu dengan ideologi gender hingga membentuk gerakan LGBT.
“Perpaduan antara gerakan feminisme, homoseksual,, dan gender ini kemudian melebur menjadi gerakan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, and Transgender),” ujarnya.
Bagus juga menyoroti perkembangan gerakan tersebut di Amerika Serikat yang menurutnya berhasil memengaruhi kebijakan hukum mengenai perkawinan sesama jenis.
“Perjuangan dari gerakan LGBT ini semakin menguat dan pada tahun 2015, mereka berhasil memengaruhi Mahkamah Agung Amerika untuk melegalkan perkawinan sejenis.”
Sebelumnya, BEM Fakultas Psikologi UI menjadi sorotan setelah mengunggah konten edukasi dalam segmen “Kastratalk” bertajuk “Eskalasi Kebermanfaatan” yang menyatakan homoseksualitas merupakan bagian normal dari keberagaman seksualitas manusia, bukan bentuk penyimpangan.
Dalam unggahan tersebut, BEM Psikologi UI menyebut anggapan homoseksualitas sebagai penyimpangan tidak tepat jika dilihat dari perspektif psikologi.
Mereka mengutip pernyataan American Psychological Association (APA) tahun 2008 yang menyebut tidak ada riset ilmiah yang mendukung anggapan bahwa homoseksualitas merupakan gangguan mental ataupun bentuk penyimpangan.
BEM Psikologi UI juga menyatakan bahwa orientasi homoseksual maupun heteroseksual merupakan bagian yang normal dan alami dari keberagaman seksualitas manusia.
Selain itu, BEM Psikologi UI menyampaikan bahwa sebagian besar individu tidak merasa dapat memilih orientasi seksualnya. Mereka mengajak masyarakat untuk tetap menghormati setiap individu meskipun memiliki pandangan berbeda terhadap isu tersebut.
Pada bagian akhir unggahan, BEM Psikologi UI menyampaikan pesan kepada kelompok queer bahwa setiap orang berhak hidup dengan aman, dihormati, dan menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut. Unggahan tersebut ditutup dengan kalimat, “You deserve to have a place here.” Tak lama setelah menuai perdebatan di media sosial, unggahan tersebut diketahui telah dihapus dari akun resmi BEM Fakultas Psikologi UI. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari BEM Fakultas Psikologi UI terkait alasan penghapusan unggahan tersebut maupun tanggapan atas kritik yang disampaikan Roslina Verauli.*




