Hidayatullah.com– Qatar hari Sabtu (15/8/2026) membantah tuduhan menahan pilot-pilot Iran, mengatakan bahwa mereka melanggar wilayah udara Qatar pada bulan Maret dan tidak memberikan dan tidak merespon terhadap upaya-upaya untuk mengontak mereka.
Lewat platform X juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan bahwa tim pencarian dan penyelamatan (SAR) kemudian menemukan mayat salah satu dari pilot tersebut dan pihaknya sudah menghubungi Iran untuk mengatur penyerahan jasadnya.
Juru bicara itu mengatakan Teheran tidak kunjung memberikan respon atas undangan untuk mengkaji operasi SAR tersebut.
Seorang pejabat militer Iran mengatakan bahwa Qatar harus mengizinkan tim Iran masuk untuk menyelidiki nasib pilot-pilot Iran yang menurut Teheran ditahan di sana, demikian dilaporkan media Iran.
Mohammad Baqerzadeh, komandan Komite Pencarian Orang Hilang yang berada di bawah Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, mengatakan bahwa Angkatan Udara Iran dan tim pencari fakta menunggu selama berbulan-bulan untuk masuk ke Qatar, menurut laporan kantor berita Tasnim seperti dilansir Reuters.
Baqerzadeh menuduh pejabat-pejabat Qatar berulang kali menunda penyelidikan dan menghalangi pemulangan pilot-pilot tersebut ke Iran. Dia menyerukan Komite Palang Merah Internasional supaya segera menindaklanjuti kasus itu.
Sementara itu Korps Garda Revolusi Iran mengatakan bahwa Qatar menolak untuk memberikan izin masuk bagi seorang pakar Iran dan komite pencari fakta guna mencaritahu nasib para pilot Iran, seraya menambahkan bahwa Doha seharusnya memperbolehkan mereka masuk dan bukannya mengeluarkan bantahan telah menahan para pilot tersebut.
Pernyataan Qatar tersebut muncul setelah kantor berita resmi Iran, IRNA, mengutip seorang pejabat militer senior yang mengatakan bahwa tiga pilot Iran telah ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Qatar setelah mereka melontarkan diri dari jet tempur selama misi tempur yang menarget sebuah pangkalan militer di Qatar.
Pejabat Iran itu menyeru Komite Palang Merah Internasional untuk mencari tahu nasib mereka.
IRNA mengatakan misi tersebut berlangsung selama Iran melancarkan serangan balasan terhadap serangan-serangan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Qatar mengatakan pihaknya mengambil langkah-langkah untuk mempertahankan wilayahnya setelah para pilot tersebut memasuki wilayah udaranya dan mereka tidak menjawab saat dikontak.
Serangan AS-Israel terhadap Iran itu memicu perang regional yang lebih luas, dengan Teheran menyerang target di Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Teluk.*




