Hidayatullah.com – Malaysia mendorong blok kerjasama ekonomi antar pemerintah BRICS untuk menolak “penjajahan dan terorisme” Israel di Timur Tengah yang telah berdampak luas.
“BRICS harus menyatakan secara tegas dan tanpa keraguan bahwa pendudukan, kolonialisme pemukim, dan yang lebih spesifik lagi, ‘terorisme pemukim’ tidak boleh menjadi takdir, dan bahwa tidak ada nyawa yang nilainya lebih rendah hanya karena tempat di mana seseorang menjalani hidupnya,” kata Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, dalam unggahannya di Facebook.
Menurut Anwar, konflik yang disebabkan entitas Zionis ‘Israel’ telah memicu kenaikan harga energi dan mengancam jalur pelayaran yang penting bagi ekonomi masyarakat internasional.
Ia menegaskan bahwa “agresi” Israel di Timur Tengah telah berdampak “jauh melampaui” pihak-pihak yang terlibat langsung, serta memicu kenaikan inflasi dan ketidakpastian.
Perlu diketahui, pada 28 Februari Amerika Serikat dan ‘Israel’ melancarkan perang terhadap Iran. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan-serangan rudal dan drone ke arah ‘Israel’ dan pangkalan militer AS di sejumlah negara di kawasan tersebut.
Iran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran, yang menyebabkan gangguan parah terhadap arus energi dan perdagangan global.
Perdana Menteri berusia 79 tahun itu menegaskan sikap negaranya yang menjunjung tinggi kedaulatan, melindungi warga sipil dan menjaga jalur ekonomi global agar tidak terdampak perang maupun konflik.
Saat berbicara dalam sesi terbuka bertajuk “Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan: Membentuk Masa Depan bagi Pertumbuhan Global yang Inklusif,” ia menyatakan bahwa kekuatan pasar gabungan BRICS menawarkan peluang untuk mendiversifikasi perdagangan dan mengurangi ketergantungan pada pasar Barat tradisional.
Ia menegaskan bahwa pembiayaan harus mampu memenuhi kebutuhan dasar tanpa membebani negara dengan utang yang tidak berkelanjutan, seraya menyoroti perlunya memajukan berbagai inisiatif melalui New Development Bank, penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal, dan pasar modal syariah.
Blok BRICS kini beranggotakan 11 negara meliputi Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Vietnam, serta Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, dan Uzbekistan, bergabung dengan BRICS sebagai negara mitra pada tahun 2025.*




