Hidayatullah.com – Semakin banyak Amerika Serikat (AS), yang memiliki hak suara dalam pemilu, yang memilih bersimpati kepada warga Palestina daripada warga ‘Israel’. Hal ini menunjukkan pergeseran sikap publik yang terjadi usai perang genosida Zionis di Gaza.
Sebanyak 38 persen pemilih menyatakan lebih memihak warga Palestina, dibandingkan dengan 35 persen yang memihak warga ‘Israel’.
Ini pertama kalinya survei rutin Quinnipiac menunjukkan lebih banyak warga Amerika yang memihak warga Palestina dibandingkan warga ‘Israel’.
Temuan serupa juga terungkap dalam hasil survei Gallup, yang memantau sentimen simpati kedua pihak sejak tahun 2022, pada bulan Februari lalu. Untuk pertama kalinya, survei Gallup menunjukkan bahwa tingkat simpati terhadap warga Palestina (41 persen) melampaui warga ‘Israel’ (36 persen).
Namun, hal ini merupakan perubahan drastis dibandingkan kondisi sesaat setelah serangan penjajah ZIonis ke Gaza dimulai; kala itu, 54 persen responden menyatakan kepada peneliti Quinnipiac bahwa mereka lebih bersimpati kepada warga ‘Israel’, sementara hanya 24 persen yang memihak warga Palestina.
Dalam survei yang dirilis pada hari Kamis tersebut, 13 persen responden menyatakan simpati mereka lebih tertuju pada warga Palestina, meningkat dari 7 persen pada bulan November 2023.
Sebagian dari perubahan sikap ini berasal dari kalangan Partai Republik—yang secara historis lebih mendukung ‘Israel’—yang kini mulai menunjukkan dukungan lebih besar terhadap warga Palestina.
Para influencer yang dulunya pendukung sayap kanan seperti Tucker Carlson dan Candace Owens kini gencar menyuarakan penentangan terhadap dukungan AS bagi ‘Israel’ terkait genosida di Gaza dan kekerasan di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Survei Pew yang dilakukan antara tahun 2022 dan 2025 menunjukkan penurunan signifikan dalam dukungan terhadap ‘Israel’ di tengah perang Gaza; kalangan muda Partai Republik (di bawah usia 50 tahun) kini memiliki pandangan negatif terhadap ‘Israel’, meningkat 15 persen sejak perang dimulai.
Upaya ‘Israel’ Ubah Opini Publik
Pada bulan Juli, Haaretz melaporkan bahwa entitas Zionis ‘Israel’ telah menghabiskan sekitar 100 juta dolar AS untuk kampanye luar negeri guna memperbaiki citra dan membentuk opini publik terkait perang yang dilakukannya di Gaza dan Iran.
Pada bulan Juni, Haaretz mengungkapkan bahwa pemerintah pendudukan ‘Israel’ membayar lebih dari 40 juta dolar AS untuk kampanye pengaruh yang menyasar kalangan Kristen dari Partai Republik—tiga kali lipat dari anggaran yang semula dialokasikan untuk kegiatan tersebut.
Kampanye yang diluncurkan pada akhir tahun lalu itu kini sedang diperluas, dengan fokus pesan yang diarahkan untuk membenarkan serangan terhadap Iran.
Dokumen yang diserahkan kepada Departemen Kehakiman AS juga mengungkap bahwa Israel telah menandatangani kontrak baru dengan sebuah perusahaan produksi asal New York untuk membuat kampanye penceritaan digital yang pro-Israel, dengan biaya hampir 1 juta dolar AS.*




