Hidayatullah.com – Maladewa pada Ahad memperingati 900 tahun sejak masuknya Islam ke negara kepulauan Asia Selatan tersebut.
Sebuah upacara besar layaknya peringatan hari kemerdekaan digelar di Hulhumale Central Park pada Sabtu malam untuk memperingati 900 tahun Hijriyah kehadiran Islam di Maladewa.
Dalam peringatan tersebut, Presiden Maladewa Mohamed Muizzu, menegaskan bahwa agama tauhid merupakan inti dari kedaulatan budaya dan bangsa.
“Petunjuk dari Islam telah melenyapkan kegelapan politeisme dan ketimpangan sosial yang ada di masyarakat Maladewa sebelum mereka masuk Islam,” kata Presiden Muizzu dalam pernyataan pemerintah.
Ia menekankan bahwa Islam menanamkan keyakinan bahwa semua manusia setara di hadapan Allah SWT, serta melindungi kesucian hidup, martabat, dan harta benda rakyat Maladewa.
Dalam momen peringatan itu, Muizzu memperingatkan bahaya konsumsi zat-zat yang memabukkan. Ia menyebutnya sebagai momok yang menghancurkan keluarga dan masyarakat.
Muizzu juga mengumumkan pembentukan Maldives Awqaf Investments Limited untuk mendanai infrastuktur, terutama masjid, dan memakmurkan masyarakat.
Peringatan di Hulhumale Central Park tersebut juga dihadiri Ibu Negara Sajidha Mohamed, Wakil Presiden Hussain Mohamed Latef, Ketua Parlemen Abdul Rahem Abdullah, para menteri, tokoh agama, anggota parlemen, dan duta besar negara sahabat.
Bagaimana Islam Masuk ke Maladewa?
Menurut sejarah dan tradisi, Maladewa memeluk Islam pada tahun 1153 Masehi berkat seorang Muslim asal Maghrib (Maroko) bernama Abul Barakat Yoosuf Al Barbary.
Abdul Barakat adalah seorang Hafidz Al-Qur’an. Ia memiliki satu misi yakni mengajak raja setempat, Sri Tribuvana Aditiya, untuk memeluk Islam.
Setelah melalui berbagai upaya dan ketekunan, ia berhasil mengislamkan sang raja, yang kemudian mengambil nama Muhammed Ibn Abdulla.
Setelah raja dan keluarganya memeluk Islam, sang raja mengutus para dai untuk mengajak penduduk setempat di berbagai pulau di Maladewa menyebarkan agama tauhid.
Setelah penduduk kepulauan tersebut memeluk Islam, Abdul Barakat menetap di Maladewa hingga akhir hayatnya. Makamnya, yang dikenal sebagai Medhu Ziyaaraiy, terletak di area Masjid Hukuru di ibu kota Malé; masjid tersebut merupakan masjid Jumat pertama yang dibangun di kepulauan itu. Sebelum beralih memeluk Islam, kepulauan tersebut telah menganut agama Buddha sejak abad ke-4 SM.*




