oleh: Ita Safitri
Hidayatullah.com – Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta resmi membuka kelas perdana untuk angkatan ke-15 pada Rabu, 9 September 2026, bertempat di aula INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) di bilangan Jakarta Selatan. Program yang diinisiasi oleh Akmal Sjafril ini diikuti oleh puluhan peserta didik terpilih, para pengurus SPI Jakarta juga turut hadir menyiapkan kelas perdana tersebut.
Pada angkatan ke-15 ini, SPI Jakarta memberikan kebijakan yang sedikit berbeda dengan meluluskan seluruh pendaftar, yakni 63 peserta didik baru. Ade Firdaus, selaku Kepala SPI Jakarta menyampaikan rasa syukurnya atas kehadiran penuh peserta pada kelas perdana malam itu. “Alhamdulillah pada malam hari ini kelas perdana SPI Jakarta angkatan 15 full team, dihadiri semua peserta baru”, ujarnya.
Turut hadir sebagai narasumber pertama, Akmal yang juga merupakan pendiri SPI, memperkenalkan jati diri SPI beserta kurikulum dan peraturan perkuliahan di SPI Jakarta. Doktor di bidang ilmu sejarah itu menegaskan kepada peserta didik agar tidak melebihi batas absen, yakni 3 kali ketidakhadiran, karena akan mendapatkan sanksi tegas yaitu dikeluarkan dari SPI Jakarta.
Berbeda dari program belajar Islam pada umumnya, SPI Jakarta mewajibkan setiap peserta didiknya untuk menulis reportase kegiatan perkuliahan setiap pekan sekaligus menghasilkan karya tulis agar menjadikan menulis sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Tidak hanya penugasan menulis, SPI Jakarta juga mengadakan agenda mabit dan juga rihlah bagi peserta didiknya pada akhir semester.
“Semua tempaan yang ada di SPI itu bermanfaat banget buat kita pribadi, kalau sudah selesai sama diri sendiri nanti bisa bermanfaat buat orang lain. Membuat laporan reportase itu ngajarin kita menuangkan apa yang kita lihat, kedalam sebuah tulisan, jadi kaya mengurai apa yang ada di kepala kita tentang suatu kejadian. Tujuannya melatih kita untuk bisa menulis. Nanti ilmu menulis ini lebih spesifik lagi dipelajari saat mata kuliah Jurnalistik”, ungkap Novalda, pengurus yang juga adalah alumnus SPI Jakarta.
SPI Jakarta menawarkan kurikulum secara berjenjang dan berkesinambungan, yaitu dari penanaman kesadaran kritis terhadap arus pemikiran (Ghazwul Fikri), dilanjutkan dengan pemahaman tentang eksistensi, tauhid, konsep diin, hingga ditutup dengan penanaman adab sebagai puncak pembentukan karakter, selaras dengan visi dari SPI yaitu menjadi lembaga pendidikan yang berkontribusi membangkitkan kembali tradisi ilmu untuk mengembalikan kejayaan peradaban Islam.
Peserta SPI Jakarta kali ini berasal dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda. Salah satu peserta, Taqiyah yang berasal dari Sumatera Selatan, merupakan mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta menyampaikan antusiasmenya mengenai SPI Jakarta. “Sejauh yang aku tahu, SPI adalah sekolah yang harus ada di mana-mana, karena kalau dari statement ustad Akmal, kejayaan Islam akan kembali dengan mengembalikan tradisi ilmu, SPI bisa jadi salah satu solusi atau wasilah buat mengembalikan tradisi ilmu itu”, pungkas Taqiyah.*




