Bangunan madrasah hanya pantas untuk kandang kambing karena dindingnya terbuat dari anyaman bambu, beratap seng, dan berlantai tanah
Hidayatullah.com | ALHAMDULILLAH, 2 ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) al-Qalam di Kampung Nanga Rema, Nusa Tenggara Timur (NTT) selesai dibangun serta siap ditempati untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Kondisi madrasah sebelumnya sangat memprihatinkan. Saking memprihatinnya, bangunan madrasah hanya pantas untuk kandang kambing karena dindingnya terbuat dari anyaman bambu, beratap seng, dan berlantai tanah. Semua kelas dijadikan satu. Tidak ada sekat sama sekali. Yang ada di dalam ruangan hanya tiga papan tulis kecil dan beberapa bangku kursi yang sebagian mulai rusak dan keropos.
Dengan dinding seperti itu, sinar, dan angin leluasa menerobos melalui celah-celah, air pun juga ikut masuk saat musim hujan. Apalagi ada bagian dinding atas yang sudah tidak ada tutupnya, air hujan dengan mudahnya menyerbu ke dalam.
“Kalau musim hujan, semua buku-buku terpaksa dipindah ke rumah saya,” kata Ita Purnamasari, guru di MIS al-Qalam, kepada hidayatullah.com beberapa waktu lalu.
Karena ruangannya terbatas, MI al-Qalam hanya menampung kelas 1, 2, dan 5. Sedang kelas 3, 4, dan 6 terpaksa bersekolah di SD Katholik di kampung sebelah.
Bukan hanya sarananya yang terbatas, gurunya pun hanya satu. Ita adalah satu-satunya guru yang ada. Sarjana Fisika dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta ini mengajar seluruh kelas serta mata pelajaran, baik umum maupun agama Islam. “Terpaksa saya mengajar semuanya karena memang tidak ada guru lain,” kata Ita.
Semua murid madrasah dikumpulkan dalam satu ruangan, lalu dibagi menjadi tiga kelompok sesuai kelasnya. Nah, Ita mengajar secara bergantian. “Yang agak susah diatur itu anak-anak kelas 1 dan 2,” katanya.
Namun, Ita bersyukur, meski tempat belajarnya tidak layak, semangat muridnya tidak pernah kendor. Tapi ia berharap, anak-anak didiknya bisa mendapat tempat belajar yang lebih layak.
Memang saat itu bangunannya sangat tidak layak sebagai tempat belajar. Namun, itulah satu-satunya sekolah yang ada di Dusun Watun Carung, Desa Haju Wangi, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur ini. Letak Watun Carung, atau orang setempat menyebutnya kampung Nanga Rema, di atas perbukitan dan terpencil.
“Alhamdulillah, saat ini dua ruang kelas MIS al-Qalam Nanga Rema bantuan para donatur Senyum Anak Negeri (SAN) sebentar lagi bisa digunakan,” kata Sarjono, Ketua SAN kepada hidayatullah.com lewat telepon, Senin (10/1/2021) kemarin.
SAN merupakan sebuah yayasan sosial yang memang fokus di bidang pendidikan, khususnya pelosok-pelosok negeri. Salah satunya programnya adalah merenovasi bangunan sekolah yang tak layak digunakan untuk Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM), sebagaimana MIS al-Qalam Nanga Rema ini.
Sarjono mengatakan ruang kelas ini sebentar lagi bisa digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), akan tetapi masih ada beberapa kekurangan yang harus dipenuhi, salah satunya adalah pintu dan jendela.
“Berikut list kebutuhan yang sangat mendesak untuk segera dipenuhi, yakni 2 daun pintu, 8 daun jendela plus kaca, penghapus dan spidol, serta biaya angkut. Dibutuhkan dana sekitar Rp 9,7 juta rupiah,” terang Sarjono, merinci biaya total seluruhnya.
Umat Islam di kampung Nanga Rema ingin sekali memenuhi kebutuhan itu. Hanya saja, sebab kondisi ekonomi yang sulit, mereka sangat berat untuk memenuhinya.
“Karena itu, kami ingin mengetuk hati para dermawan beserta pemerintah. Bagi yang berkenan membantu bisa menghubungi kami 085292428473 atau transfer ke rekekening BSI 7125522248 a.n. Senyum Anak Negeri. Mohon cantumkan kode 222 pada nominal digit terakhir untuk verifikasi donasi,” tutup Sarjono.*