Hidayatullah.com—Hari Sabtu (17/11/2012), para siswa dari 18 kota memenuhi gedung Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI) untuk menyelenggarakan babak final Kompetisi Studi Islam dan Matematika Nasional ke-2, Fakhruddin Ar Razi Cempetition (FRC) 2012.
Pagi itu, sekitar pukul 08.00 WIB Menteri BUMN Dahlan Iskan membuka acara FRC 2012.
Acara yang digagas oleh Majalah Gontor bekerjasama dengan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) ini diikuti oleh 624 peserta dari 18 kota di Indonesia, setelah menyaring dari 5140 pada babak penyisihan yang diselenggarakan di GOR Ciracas, 13 Oktober 2012.
Penampilan Dahlan nampak santai, balutan pakaian kemeja putih lengan panjang dan sepatu kets itu nampak enerjik tampil di depan anak-anak dan orangtua murid. Sembari sesekali melemparkan gurauan kepada para peserta dan orangtuanya. Alhasil suasana yang semula tegang terasa sedikit mencair.
“Ini yang tegang bukan siswanya, tapi ibu-ibunya juga tegang,” seloroh Dahlan yang disambut gelak tawa semua hadirin yang hadir.
Pria yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren Magetan ini menceritakan bahwa dahulu ia bukanlah siswa yang pintar, terlebih pada mata pelajaran matematika. Ia memuji peserta kompetisi yang semua ingin menjadi orang pintar dan ingin terus maju.
“Saya dulu termasuk tidak terlalu pandai matematika karena tidak punya guru hebat seperti adik-adik. Adik-adik itu lebih hebat dari saya semuanya pengen pinter dan jadi orang baik,” ujarnya.
Pada kesempatan ini Dahlan juga berpesan kepada para peserta kompetisi untuk menjadi pribadi yang unggul, serta tetap terus memiliki rasa kompetisi agar Indonesia dapat menjadi negara unggul 10 tahun mendatang.
“Pagi ini saya menghadiri acara yang sangat bagus, yaitu mengenai kejayaan agama dan negara. Saya harapkan 10 tahun lagi saya kira Indonesia menjadi unggul,” ujar Dahlan seraya membuka acara yang diikuti dengan pemukulan gong oleh peserta sebanyak tiga kali.
Dahlan sempat bercerita, kalau dirinya pernah ikut tes masuk Pondok Gontor namun tidak lulus pada tes awal. Dahlan memuji guru-guru dan kualitas sekolah asrama tersebut.
“Semua akan jadi juara semua peserta hebat hebat, alumni gontor hebat hebat. Dan saya dulu tidak lulus sekolah di sana,” ungkapnya.
Menurut Pemimpin Redaksi Majalah Gontor Adnin Armas, lahirnya kompetisi yang menggabungkan dua disiplin ilmu ini dilatarbelakangi makin menipisnya pengetahuan agama Islam para siswa. Mereka lebih dominan mengejar pengetahuan umum ketimbang pengetahuan agama.
”Seharusnya ada keseimbangan di antara keduanya untuk mendapatkan pendidikan yang integral,” jelasnya. Para siswa yang pandai dalam bidang pengetahuan umum dan matematika hendaknya dibekali dengan nilai-nilai dan pengetahuan agama Islam agar mereka menjadi pribadi yang memiliki akhlakul karimah.
Lebih lanjut, Adnin menerangkan, di zaman keemasan Islam banyak lahir ilmuwan Muslim yang juga mumpuni di bidang agama Islam. Temuan-temuan mereka menjadi inspirasi pengembangan ilmu pengetahuan saat ini. Di bidang matematika, misalnya, para pakar matematika Muslim telah memberi kontribusi nyata dalam menemukan berbagai macam teori seperti sistem bilangan desimal dan sistem operasi matematika. Mereka antara lain al-Khawarizmi, al-Kindi, al-Karaji, al-Battani, al-Biruni, dan Umar Khayyam. Mereka mengenalkan angka-angka dan lambang bilangan, termasuk angka nol (zero), bilangan phi, algoritma, fungsi sinus, cosinus, tangen, dan lain-lain.
Di bidang kimia ada nama Jabir Ibnu Hayyan, al-Biruni, Ibnu Sina, ar-Razi, dan al-Majriti. Di bidang biologi ada al-Jahiz, al-Qazwini, al-Damiri, Abu Zakariya Yahya, Abdullah bin Ahmad bin al-Baytar, dan al-Mashudi. Al-Jahiz adalah pencetus pertama teori evolusi. Sedangkan di bidang fisika ada Al-Haitham, Ibnu Bajjah, al-Farisi, dan Fakhruddin ar-Razi. Selain jago fisika, Fakhruddin al-Razi juga jago matematika, astronomi, dan ahli kedokteran. Ia adalah ulama yang intelek.
Namun sayang, nama-nama penemu itu tidak banyak disebutkan dalam buku-buku pelajaran di sekolah maupun di perguruan tinggi. Pelajar dan mahasiswa lebih mengenal ilmuwan Barat dibanding ilmuwan Muslim.
Sementara itu Direktur KPM, Ir R Ridwan Saputra MSi, mengatakan banyak umat Islam yang tidak concern terhadap kemampuan matematika. Padahal matematika merupakan ilmu dasar berpikir.
“Jika matematikanya bagus, maka seseorang akan gampang mempelajari ilmu yang lain,” papar Ridwan.
Selain itu, lanjut Ridwan, matematika dapat melatih kemampuan menganalisa dan mengeksplorasi, sehingga kemampuan penelitiannya bagus.
Olimpiade Studi Islam dan Matematika Fakhruddin ar-Razi Competition (FRC) 2012 digelar dalam dua babak: babak penyisihan dan babak final. Babak penyisihan akan diadakan pada 13 Oktober 2012 di berbagai tempat di Indonesia, sedangkan babak final digelar pada 17 November 2012 di Kampus STEKPI, Kalibata, Jakarta Selatan.*/Fathurroji