Hidayatullah.com- Jangan ada pondasi yang menjadi karakter dalam diri kecuali dengan Al-Qur’an. Hal tersebut disampaikan oleh pemerhati keluarga Zainuddin Musaddad pada kajian parenting rangkaian acara Musyawarah Nasional (Munas) V Muslimat Hidayatullah, Ahad (27/12/2020).
Munas ini diadakan secara virtual dengan pusat kegiatan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat dengan dihadiri sekitar 80 peserta perwakilan dari Pengurus Wilayah (PW) seluruh provinsi di Indonesia.
Pria yang akrab disapa dengan panggilan Ust. Zain ini bertutur untuk selalu memperbanyak kalimat yang baik, karena akan ada malaikat yang mengaminkan tentang apa yang kita lisankan.
“Ucapkan kata-kata yang baik, hadirkan perilaku yang baik. Karena Allah tidak akan menghilangkan sejarah pada tempat yang bertaut kebaikan,” ucap Zainuddin.
Dalam hal ini ia juga mengungkap pentingnya kinestetik dalam diri seseorang, yaitu kecerdasan dan keterampilan menggerakkan seluruh tubuh untuk kebaikan.
“Kinestetik yang positif akan menghadirkan kebaikan pada dirinya dan orang lain. Maka jangan bosan untuk menggerakkan tubuh dan menularkan kebaikan pada orang lain,” jelasnya.
Ia berpesan agar ketika menggerakkan tubuh ini, jangan lupa untuk berzikir menyebut asma Allah dan mengatakan kalimat yang baik.
Zainuddin mengatakan bahwa generasi yang baik ialah mereka yang memberikan hal pada tubuhnya dan memaksimalkan kinestetik dalam dirinya. Zainuddin melafadzkan Surah At-Thagabuun ayat 16 yang artinya:
“Dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Lebih lanjut, Zainuddin menuturkan tentang pentingnya keteladanan.
“Mengapa Ismail rela disembelih? Mengapa Hajar rela ditinggal sendiri dengan putranya yang berusia bayi di tengah padang pasir?” tanya Zainuddin di hadapan peserta yang hadir di ruang acara dan peserta yang mengikuti rangkaian acara secara virtual.
Hal tersebut karena Ismail meneladani kebaikan dan ketaatan yang dimiliki oleh ibunya. Sedang ibunya meneladani kebaikan yang dimiliki oleh suaminya, Ibrahim.
“Teladan lebih mudah diikuti oleh seorang anak daripada perkataan yang diucapkan secara berulang-ulang,” tambahnya.
Zainuddin juga berpesan kepada pengurus Mushida terpilih untuk terus semangat berjuang melahirkan generasi yang baik, yang mampu mengerahkan seluruh kinestetiknya.
“Kita tidak bisa melawan kezhaliman yang menyebar saat ini dengan tangan maupun senjata. Tapi kita tidak mungkin tinggal diam. Generasi yang ada saat ini harus tangguh untuk menyebarkan kebaikan dengan memanfaatkan kecerdasan kinestetik yang dimiliki,” pungkasnya.* Arsyis Musyahadah