Hidayatullah.com–Guru Besar Universitas Kashmir, Prof. Dr. Hamidullah memaparkan perlunya islamisasi ilmu dan langkah-langkah yang harus diambil. Ada tiga poin besar yang dipaparkan oleh ulama yang juga akrab disapa Hamid Naseem Rafiuabadi tersebut. Pertama ialah penguasaan Bahasa Arab.
“Bahasa ini telah mengalami Islamisasi ketika Allah memilihnya menjadi medium al-Qur’an. Di dalam bahasa-bahasa lain, konsep-konsep kunci seperti “ketuhanan” mengandung makna-makna dari peradaban yang menjadi induknya. Ulama-ulama kita dari dahulu telah memproduksi kerja-kerja ilmiah semuanya dimulai dari penguasaan bahasa Arab,” paparnya saat mengisi kuliah umum bertajuk “Islamization of Knowledge and Education” yang diadakan Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor bekerjasama dengan International Institute of Islamic Thought (IIIT) Asia Tenggara, pada Jum’at (19/12/2014) kemarin.
Kemudian poin kedua adalah pengembangan filsafat ilmu Islam.
“Hal ini harus dimulai dari mengkaji ulang istilah-istilah keilmuan dari al-Qur’an sendiri seperti; ta’aqqul (memahami dengan akal, lebih mendalam dari tafakkur, red), tafakkur (memahami secara mendalam,mendalami ilmu agama, red), tadabbur (merenungi Al-Qur’an, red),tafaqquh (mendalami, red), ilm (ilmu), hikmah (kebijaksanaan), “ ujar Dr. Hamidullah Marazi.
Selanjutnya menghidupkan rasa ingin tahu yang telah ditanamkan oleh Al-Qur’an juga menganalisa sedalam-dalamnya (tabayyun) aspek-aspek seperti nilai yang mengelilingi sebuah bangunan ilmu.
“Dengan demikian, kita bisa membedakan yang baik dan buruk darinya.Seperti al-Ghazali ketika menulis Tahafut al-Falasifah, beliau menyaring pengaruh metafisika Yunani di dalam pemikiran filsuf yang bertentangan dengan Islam,” ungkap cendekiawan IIIT ini pada peserta yang hadir.
Poin terakhir yang penting menurut ahli perbandingan agama tersebut adalah mengislamkan kembali tasawuf. Dari pengalamannya mengajar tasawuf selama puluhan tahun ada unsur-unsur tasawuf yang mengandung nilai dari luar Islam.
“Contohnya seperti wahdatul wujud atau hulul, di dalam Islam hanya ada tauhid. Langkah yang perlu dilakukan adalah mengkaji topik pemikiran para sufi lalu melihat apa yang dikatakan Al-Qur’an tentang topik-topik tersebut. Kita harus membangun sufisme di atas Al-Qur’an, bukan melihat Al-Qur’an dari sudut pandang sufisme,” jelasnya.
Kuliah umum tersebut sepenuhnya disampaikan dalam Bahasa Inggris dan Arab, meski demikian para peserta menyimak dengan serius. Ketika sesi tanya jawab dibuka seorang peserta bertanya tentang tantangan pemikiran di era globalisasi ini.
Prof Hamidullah menjelaskan, untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut kita harus menguasai bidang-bidang keilmuan melebihi mereka sendiri, lalu memberikan jawaban seperti Imam al-Ghazali ketika hendak mengoreksi pemikiran para filosof.*/Ayub, Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU), angkatan 2008, Gontor