Hidayatullah.com–Wakil Rektor IV Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Dr. Nirwan Syafrin mengatakan konsep kebaikan dan kemuliaan sebuah umat berpulang kepada yang digariskan oleh agama Islam.
Seharusnya seorang Muslim tidak boleh tertipu dengan ilusi-ilusi dan asumsi yang berkembang di luar pandangan syariat. Dengan, ilmu (Syariat) umat Islam bisa mengenali suatu kebenaran yang mengantar kepada keyakinan.
Pernyataan ini diungkap oleh Dr Nirwan Syafrin merespon segelintir tokoh Muslim yang terkesan masih membela Syiah.
“Ilmu itu berujung kepada keyakinan dan bukan sebaliknya, mengantar kepada keragu-raguan,” ungkap Nirwan.
“Tidak ada netralitas dalam sebuah kebenaran, tambah pria lulusan International Institute of Islamic Thought and Civilization–International Islamic University (ISTAC-IIU) Malaysia ini.
Di hadapan puluhan mahasiswa Ma’had Ulil Albab, UIKA Bogor, Nirwan juga menjelaskan ciri para ulama terdahulu ketika berinteraksi dengan ilmu.
Menurut Nirwan dalam persoalan ilmu fikih sekalipun selalu ada pendapat rajih (yang dikuatkan) dan marjuh (dilemahkan) atau al-qaulu ash-shahih (perkataan yang tepat) dan ashahhu al-qaul (pendapat yang paling tepat).
“Lebih-lebih dalam urusan akidah dan keyakinan seorang Muslim,” imbuhnya.
Dalih bersikap objektif hingga tidak mau berpijak pada kebenaran, masih menurut Nirwan, adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Karena objektif terhadap ilmu adalah mengetahui suatu kebenaran, menyampaikan serta memperjuangkan kebenaran tersebut.
“Biasanya pendukung pluralisme dan liberalisme itu bersembunyi di balik kata objektifitas dan netralitas. Biar mereka terkesan seolah ilmiah, toleran serta moderat,” ucap Nirwan mengkritisi.
Terakhir, dosen yang juga peneliti Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) ini mengingatkan teladan perjuangan para ulama terdahulu dalam mendakwahkan kebenaran di zamannya.
Tak sedikit di antara mereka yang berujung kepada resiko penderitaan demi keyakinan terhadap agama Islam. Di antara mereka Ibnu Taimiyah dan Ahmad bin Hanbal.*/Masykur Abu Jaulah