Hidayatullah.com–Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung Angkatan 6 memasuki sesi kelas daring kedelapan belas pada hari Kamis (22/10/2020). Dr. Wendi Zarman pada malam itu menyampaikan materi bertajuk “Manusia dan Kebahagiaan”.
“Padahal kebahagiaan sangat berkaitan pada kepuasan hidup,” katanya. Jika seseorang merasa bahagia, dia pun puas dengan hidupnya. Ketika miskin tapi bahagia, kekayaan pun tak diperlukan” ujar Wendi yang juga Pimpinan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung tersebut.
Wendi lebih lanjut menyampaikan konsep kebahagiaan yang dikutip dari pernyataan Profesor Syed Naquib Al-Attas. “Kebahagiaan di dalam Islam, kata Al-Attas, didefinisikan dengan istilah “sa’adah”. Istilah ini berkaitan dengan dua dimensi kewujudan: kewujudan di akhirat (ukhrawiyyah) dan kewujudan dunia (dunyawiyyah). Kebahagiaan yang kekal dan sesungguhnya bagi Islam adalah bertemu Allah di akhirat. Cara menuju akhirat adalah melakukan hal-hal yang diperintahkan Allah di dunia. Keduanya tak dapat dipisahkan”, terang Wendi.
Wendi yang juga berprofesi sebagai dosen di UNIKOM tersebut menjelaskan, walaupun tujuan akhirnya adalah akhirat, namun kita sebenarnya sudah bisa mencapai kebahagiaan itu di dunia. Ia menjelaskan hal ini dengan membandingkan sa’adah dengan lawan katanya, syaqawah. Syaqawah punya beberapa istilah dalam Bahasa Arab yang kesemuanya berarti ‘kesedihan’ dan ‘ketakutan’. Menurutnya, cara melepaskan diri dari kesedihan dan ketakutan yang berlebih-lebihan adalah dengan usaha untuk memperoleh ketenangan jiwa.
“Seorang Muslim mampu mencapai ketenangan jiwa itu, menurut Imam Al-Ghazali, adalah dengan menundukkan jiwa hewaninya menggunakan jiwa akalinya”, kata Wendi.
Jiwa hewani dideskripsikan Wendi sebagai nafsu manusia untuk melakukan hal-hal semaunya tanpa peduli kebenarannya apa, tak peduli apakah itu merusak atau tidak. Sementara jiwa akali adalah yang mengetahui kebenarannya. Jiwa hewani harus aslama atau berserah diri untuk diatur oleh jiwa akali. Jiwa akali mengaturnya dengan diin atau agama. Mulai dari cara mendapatkan makanan sampai tata cara makan, hingga pemahaman mengenai perilaku seksual, semua diatur Islam untuk mengawal jiwa hewani manusia.
Menanggapi penjelasan Dr. Wendi, Sarah, salah satu peserta berkomentar tentang konsep memperoleh kebahagiaan dari dalam diri. “Jadi, supaya bahagia itu ternyata kembali lagi ke diri kita sendiri. Apakah mau terus terbelenggu dalam jiwa hewani sehingga tak pernah merasa puas, atau terus belajar menguasai jiwa hewani dengan jiwa akali. Di situlah baru kita bisa mendapatkan bahagia yang menenangkan, yang insya Allah kekal sampai ke akhirat-Nya,” pungkasnya.*/Fikha Adelia