Hidayatullah.com– Suhu dingin di kawasan puncak Kota Batu, Jawa Timur seakan terasa hangat saat disambangi ratusan guru dan dai se-Indonesia dalam dua acara berbeda. Kehangatan itu di antaranya bersumber dari ikatan ukhuwah mereka yang lama tak bersua.
Para guru itu mengikuti Pelatihan CAKEP (Calon Kepala Sekolah). Sedangkan para dai mengikuti Rakernas Dakwah I sekaligus Dauroh Mu’allim Nasional dengan tema “Bersama Dai Membangun Negeri”.
Serangkaian kedua acara itu digelar oleh DPP Hidayatullah Bidang Tarbiyah serta Bidang Pelayanan Ummat di kompleks Villa Hidayatullah Batu, Desa Sumberejo, selama sepekan, Jumat-Kamis (29/04-05/05/2016). Masing-masing acara di bawah Departemen Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) dan Departemen Dakwah dan Penyiaran.
Ketua Pos Dai selaku panitia rakernas dan daurah, Ahmad Suhail, S.Pd, mengatakan, kegiatan itu untuk mengimbangi semangat dan spirit para juru dakwah.
“Sehingga (rakernas) ini bukan semangat untuk menikmati yang sudah jadi. Tapi untuk mengawali hal yang besar,” ujarnya dalam pembukaan acara dai (30/04/2016).
Pada rakernas yang diikuti 60-an dai termasuk dari pelosok itu, di antaranya digelar diskusi tentang rumusan program ke depan dalam membangun Indonesia. “Semangatnya bagaimana agar dakwah ini bisa tegak,” ujar Suhail.
Ketua Bidang Pelayanan Ummat, Drg. Fathul Adhim, M.KM, mengatakan, yang ingin dicapai oleh kader ormas itu adalah menyukseskan visinya; membangun peradaban Islam.
“Jadi ke depannya nanti tidak hanya membuat sekolah, tapi bagaimana kita menggolkan peradaban Islam berbasis wilayah,” ujarnya.
Adapun di antara program yang perlu dan telah diterapkan para dai yaitu dakwah ke masyarakat, menyukseskan Gerakan Nasional Dakwah Mengajar Belajar Al-Qur’an, mengisi taklim, dan menjadikan pesantren sebagai pusat dakwah.
“Ngurus dakwah ini tidak bisa hanya diam. Mesti jalan (bergerak),” tegasnya.
Fathul mengatakan, agar program ini bisa sukses, maka dakwah bukan hanya dijadikan sebagai profesi, tapi juga sebagai kewajiban bagi setiap Muslim.
Ia berharap agar setiap dai perwakilan berbagai wilayah itu membuat kegiatan yang dapat memperbanyak dai-dai muda sebagai penerus.
“Misalnya mengadakan Kuliah Dai Mandiri seperti yang sudah dilakukan oleh sebagian wilayah. Dan mestinya di setiap wilayah harus ada Pos Dai yang mendukung program para dai,” pesannya menyarankan.
Sementara itu, Ketua Departemen Dikdasmen Drs. Amun Rowie, M.Pd.I mengatakan, tujuan dari pelatihan para CAKEP adalah untuk membekali mereka sebelum ditugaskan ke sekolah baru.
“Insya Allah tahun ini Hidayatullah akan mendirikan 50 sekolah baru di seluruh wilayah,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara.
Maka dari itu, para calon kepala sekolah dibekali agar bisa memimpin sekolah menjadi lebih baik. Karena sekolah-sekolah itu berkonsep pendidikan tauhid, maka semua materi mengacu kepada konsep tersebut.
“Tujuan dari pendidikan berbasis tauhid adalah untuk membentuk manusia sesuai dengan penciptaannya sebagai hamba dan khalifah-Nya,” ujarnya.
Ia mengatakan, fungsi sekolah ada dua. Yang pertama fungsi ideologisasi. Yaitu bagaimana mewariskan nilai di dalamnya.
“Karena kita punya nilai, punya pandangan hidup dan punya ideologi yang harus ditawarkan kepada anak kita. Supaya nanti mereka bisa meneruskannya,” ungkapnya.
Fungsi yang kedua adalah fungsi dakwah atau rekrutmen. Melalui pendidikan, para anak didik bisa direkrut menjadi kader-kader Islam. “Dan juga merekrut orang tuanya sebagai pendukung dakwah,” ujarnya.
Pelatihan ini diikuti sekitar 40 guru dari berbagai jenjang sekolah dasar menengah se-Nusantara. Mengusung tema “Meningkatkan Mutu Sekolah Melalui Standardisasi Kepala Sekolah”.* Kiriman Muhammad Zainal A, pegiat komunitas PENA