Hidayatullah.com– Senin sore (25/07/2016) bertempat di Gedung DPD RI Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jl Polisi Militer No. 7, Kota Kupang, digelar pelatihan metodologi bedah tajwid dan tahsin al-Qur’an.
Hadir sebagai pemateri Rahmawati, S.Ud, M.A (instruktur tajwid dan tahsin nasional).
Ustadzah asal Sukabumi, Jawa Barat, ini menjelaskan, dalam mengajar tajwid, beberapa banyak hal harus diperhatikan oleh setiap guru.
Di antaranya, kata dia, dalam penyebutan huruf hijaiyah. Setiap membaca huruf harus diberi sifat dan hak dari masing-masing huruf.
“Kalau membaca al-Qur’an harus lantang suara. Pengetahuan tajwid itulah paling penting,” ujar Rahmawati yang menyampaikan materi penuh semangat.
Ia menambahkan, guru dituntut kesabaran dalam mengajar.
Kata dia, di antara guru ada yang tak bisa sabar dalam menghadapi 30-an murid, misalnya.
Ia pun mengungkap fenomena dalam dunia belajar-mengajar. Misalnya, ketika anak banyak bertanya, kadang guru mulai tidak sabar dengan banyaknya pertanyaan. Sering pula guru merasa bosan dalam menghadapinya. Sebaiknya tidak begitu.
Selain itu, ia berpesan agar guru tak mengoreksi murid dengan kata-kata kasar. Tetapi dengan kata-kata positif yang membangun gairah anak dalam membaca atau belajar.
Harapan bagi Guru
Kegiatan pelatihan itu dibuka oleh Senator NTT Syafrudin Atasoge.
Dalam sambutannya, ia berpesan, “Dari guru-guru (peserta pelatihan) ini, ke depan pengajar dituntut untuk mengajar sesuai dengan tuntutan dan buku panduan yang memadai.”
Ia pun berharap, masing-masing rayon di tiap kabupaten se-NTT ada guru-guru yang handal dan mahir dalam mengajarkan al-Qur’an.
Salah satu peserta, Faridah, mengaku baru pertama kali ikut kegiatan ini. “Serasa kayak mau ikut terus,” ujar pengajar di TPA Masjid Al-Muhajirin Oebufu, Kupang ini.
“Pasalnya, pemateri sangat santun dan ramah dalam menyampaikan materi. Sarat dengan manfaat bagi guru TK dan TPA. Mudah-mudahan kami dapat mempraktikkan,” tambahnya.
Acara ini disponsori oleh DPD RI perwakilan NTT, DPD Hidayatullah Kota Kupang, Yayasan Ulil Amri, dan Mushida. Pihak penyelenggara kegiatan yaitu salah satu rumah al-Qur’an setempat.* Kiriman Abu Zain Zaidan, pegiat komunitas menulis PENA NTT