Hidayatullah.com– Mu’tazilah menganggap al-Quran adalah makhluk, meski mereka membacanya dengan cara yang sama dengan umat Muslim lainnya. Cara berpikir yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti itulah, yang membuat Mu’tazilah dianggap sesat dan pelaku bid’ah oleh para ulama.
“Orang Mu’tazilah, meskipun perbuatannya baik dan ibadahnya tidak ada yang menyimpang, tetap disebut ahlul bid’ah karena cara berpikirnya salah,” papar Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Dr. Henri Shalahuddin pada kuliah yang diberikannya untuk Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta Angkatan ke-9.
Dalam kesempatan kali ini, ia mengajak peserta kuliah yang hadir pada malam itu untuk membahas seputar worldview atau pandangan hidup Islam dan fenomena pemikiran sesat.
“Islam juga mengatur cara berpikir, bukan hanya mengatur perbuatan saja,” ujar Henri lagi dalam kuliah yang rutin dilakukan setiap Rabu malam di Gedung INSISTS di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan ini.
Henri melanjutkan penjelasannya dengan menuturkan bahwa cara berpikir yang berbasis ajaran Islam itulah yang disebut sebagai Islamic worldview.
Menurut dia, pola pikir yang bermasalah menunjukan framework berpikir yang rusak, meskipun didukung dengan ibadah yang baik.
“Wasil bin Atha’, tokoh Mu’tazilah itu, bahkan shalat Subuh dengan menggunakan wudhu dari shalat Isya. Orang sesat zaman dulu itu ibadahnya kuat!” tegas Henri.
Dia menegaskan bahwa Islamic worldview sangat penting dipakai oleh setiap umat Muslim agar tidak tersesat. Tidak hanya itu, lanjut Henri, dalam Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu, ilmu harus berdimensi iman, dan amal mesti berdasarkan ilmu.
“Orang beriman itu harus berilmu, orang yang berilmu harus menambah imannya, dan orang yang beriman harus dikuatkan oleh ilmunya,” tandasnya.
Henri kemudian mengajak peserta untuk menilik sejarah. Sejak tradisi intelektual Islam berkembang, bermunculanlah beragam aliran sesat seperti Syi’ah dan Mu’tazilah. Berkat jasa ulama Kalam-lah aliran sesat seperti itu bisa dibantah dan dihabisi pengaruhnya.
“Aliran-aliran sesat seperti ini tidak bisa musnah jika hanya dilawan dengan berdoa setelah shalat, tapi juga harus dibantah agar mereka benar-benar habis,” ungkap Henry.*/Priyanka Kusuma Wardhani