Hidayatullah.com– Hujan kembali mengguyur Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah saat jamaah haji sedang menjalani rangkaian ibadah haji, Ahad (11/08/2019) waktu Arab Saudi.
Saat hujan gerimis turun, Amirul Hajj yang juga Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dan delegasinya sedang berjalan kaki sejauh sekitar tiga kilometer untuk melempar jumrah aqabah di Jumarat.
Delegasi Menag tiba di Jumarat, Ahad sekitar pukul 17.00 waktu setempat.
Cuaca memang mendung sejak seharian, hingga tak berapa lama kemudian langit menumpahkan hujan gerimisnya pada suhu 29 derajat celsius.
Suasana di Kota Mekkah sendiri saat ini sangat padat, sehingga mobilitas pun dimungkinkan hanya dengan berjalan kaki meskipun untuk jarak yang terjauh sekalipun.
Demikian juga pergerakan Amirul Hajj yang juga dilakukan dengan berjalan kaki.
Dalam setiap langkah, Amirul Hajj menyapa jamaah Indonesia dan berpesan agar jangan sampai terpisah dari rombongan. Banyak dari jamaah yang mendekat kepada Menag dan meminta berswafoto bersama.
“Jangan terpisah dari rombongan ya Pak, Bu, semoga mabrur hajinya,” ujar Lukman kutip Antaranews.com, Senin (12/08/2019).
Menag dan rombongan lalu menuju ke tempat lempar jumrah aqabah dengan tujuh kerikil yang telah disiapkan dari Muzdalifah. “Bismillahi, Allahu Akbar,” ujar Menag, ia melakukan sebanyak tujuh kali lontaran.
Lempar jumrah aqabah juga dilakukan oleh delegasi Amirul Hajj yang lain. Selesai melakukan lempar jumrah, Menag dan rombongan melanjutkan perjalanan ke tenda Misi Haji Indonesia yang berada di Mina, sekaligus meninjau jamaah yang sedang mabit dan melakukan mabit sekaligus.
”Alhamdulillah arus lancar, dari Jumarat ke Mina juga dalam kondisi baik. Sejauh ini lancar memang dalam perjalanan ada beberapa yang dehidrasi kecapekan untungnya segera ditangani oleh petugas kesehatan,” ujarnya.
Menag kembali berjalan sejauh empat kilometer dari Jumarat hingga menembus terowongan Moaseim menuju Mina.
Sepanjang jalan ia dikerumuni tak hanya jamaah Indonesia tapi juga beberapa anggota jamaah dari luar negeri yang ingin berfoto bersama Amirul Hajj.
Sesampainya di mulut terowongan Moaseim, Menag mendapati ada jamaah haji yang sakit dan sedang dirawat oleh tim kesehatan petugas haji Indonesia.
Menag menjenguk dan memberikan dukungan semangat kepada jamaah yang sakit dan kepada para petugas kesehatan yang sedang merawat mereka.
Lukman lantas melanjutkan perjalanan hingga menembus keluar terowongan Moasiem, lalu menuju Maktab 51 tenda Misi Haji Indonesia. Ia menyempatkan diri untuk menjenguk tenda-tenda dan posko kesehatan di Mina.
Sebelumnya, hujan juga telah mengguyur Padang Arafah tempat dilaksanakannya wukuf sebagai puncak ibadah haji, Sabtu (10/08/2019) siang jelang sore Waktu Arab Saudi (WAS). Berdasarkan informasi dihimpun, hujan turun sekitar pukul 14.45 WAS.
“Arafah diguyur hujan,” ujar Harun salah seorang jamaah haji kepada hidayatullah.com sekitar pukul 19.45 waktu Indonesia barat (WIB). Ada perbedaan sekitar 4 jam antara WAS dan WIB.
Guyuran hujan ini berlangsung setelah 45 menit jamaah haji Indonesia menyelesaikan rangkaian ibadah wukuf. Mulai dari pembacaan Al-Qur’an, shalat berjamaah, khutbah wukuf, hingga berdoa bersama.
Pada sekitar pukul 14.45 WAS itu, jamaah haji seluruh dunia sedang berdiam diri di dalam tenda masing-masing, melaksanakan rangkaian wukuf di Padang Arafah.
Setelah cuaca panas mendera hingga 36 derajat, terjadi perubahan tiba-tiba di Arafah. Dari dalam tenda, mulai terdengar petir menyambar di langit. Tampak awan menghitam. Tidak lama kemudian, rintik hujan turun, membasahi Tanah Arafah. Kian lama kian deras diiringi angin.
Beberapa jamaah haji dari beberapa tenda berdiam diri, tampak bergegas menuju pintu tenda. Ternyata sebagian jamaah penasaran benarkah hujan turun di tengah proses ibadah wukuf.
Mendapati hujan sedang turun, ucapan syukur keluar dari mulu jamaah, saat tangan menggapai air yang jatuh dari langit. Hujan berkah mengiringi puncak haji di Arafah.
“Hujan ini mendinginkan kita, mengantarkan kepada kesejukan,” ucap jamaah haji lainnya bernama Efa Ariani kutip MCH, Sabtu (10/08/2019).
Efa pun semringah dan seakan tak peduli hujan membasahi baju ihram yang dipakainya.
Sementara itu, Syahruddin, jamaah lainnya, menuturkan jika salah satu waktu mustajab saat berdoa adalah ketika hujan Ia pun mengajak melantunkan doa untuk diri sendiri diri, keluarga maupun umat Islam lainnya.
“Doa saat hujan, Allahumma shayyiban naafi’an. Semoga hujan yang turun membawa manfaat dan keberkahan,” ungkapnya.
Berdasarkan pantauan, hujan berlangsung sekitar setengah jam. Rintik air tak lagi terlihat meski suara petir masih terdengar.
Datangnya hujan ketika hari H wukuf diyakini menjadi berkah tersendiri. Hal ini lantaran antara lain membuat suhu udara jadi tidak seterik hari-hari biasanya. Hujan di Saudi memang sesuatu yang langka.*