Hidayatullah.com–Akibat antimen anti-Arab yang terus menguat di Barat, kini para turis Timur Tengah membanjiri Malaysia. Sikap ini sebagai perubahan atas perlakuan pihak Barat yang terus mendiskiriminasikan Islam dan Arab. Ghassan Nasry, warga Saudi yang juga pengusaha realestat kini tidak bingung lagi berpikir ke mana membawa keluarganya berlibur. Ia kini mengesampingkan negara-negara Barat. Pasalnya, sejak peristiwa 11 September 2001, warga Arab di Barat dilecehkan. Ia lantas ingat iklan TV mengenai pariwisata di Malaysia. “Banyak yang bisa dilihat dan dinikmati di Malaysia,” kata Nasry, 32, saat berjalan dengan istri dan 5 anaknya di dekat Menara Kembar Petronas, gedung tertinggi dunia, di Kuala Lumpur. Pantai-pantai alami dan ragam budaya negara berpenduduk mayoritas muslim ini sebetulnya telah lama memikat turis dari negara-negara tetangganya di Asia Tenggara. Kini, Malaysia juga menjadi tujuan bagi warga Timur Tengah (Timteng) yang ingin berlibur dengan tenang, dengan latar belakang Islami yang familiar bagi mereka. “Bila saya kembali ke Jeddah, saya akan bilang teman-teman : Jangan pergi ke tempat di mana Anda tak disambut, datang saja ke Malaysia!” Jumlah warga Timteng yang ke Malaysia naik secara mantap sejak 1990-an. Namun, setelah serangan 11 September di AS, turis Timteng yang ingin menghindari sentimen anti-Arab di Barat, menyerbu Malaysia yang dianggap lebih bersahabat. Malaysia menerima 66.010 turis dari Timteng selama Juni-Agustus 2002 saja. Ini peningkatan 18 persen dari periode yang sama tahun 2001, sehingga menjadikan Timteng sebagai pasar turisme Malaysia yang berkembang pesat. Pariwisata adalah peraih devisa terbesar Malaysia, meraup 6,8 miliar dolar (Rp 61,2 triliun) pada 2001, dengan jumlah turis asing 12,8 juta. Sebagian terbesar turis berasal dari Asia Tenggara, namun turis Timteng kian diburu karena lebih suka belanja dan lebih lama tinggal. Menteri Pariwisata, Seni dan Kebudayaan Malaysia Abdul Kadir Sheikh Fadzir mengatakan Malaysia berharap menerima 250.000 turis dari Timteng pada 2002, lipat dua dari total tahun 2001. Para pelancong -terbesar dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, Suriah, Turki dan Yordania- biasanya singgah pertama kali ke Kuala Lumpur, yang menggabungkan fasilitas kosmopolitan dengan bangunan-bangunan berciri Islam. Dari sana, banyak yang menuju Pulau Langkawi dan Penang yang indah, yang disebut “Mutiara dari Timur”. Lainnya memilih resor puncak bukit yang sejuk seperti Cameron Highlands yang dipenuhi kebun strawbery dan taman bermain. Tak satu pun di Malaysia ingin ketinggalan dari boom bisnis di sektor turisme ini. Hotel dan agen perjalanan berlomba menggenjot promosi di Timteng dan menyediakan kebutuhan turis asal kawasan itu. Suleiman Abdul Rahman, direktur komunikasi grup Hotel Shangri-La Malaysia, mengatakan dua resor pantainya di Penang telah menyediakan kamar-kamar baru untuk menampung para peziarah muslim dan menyewa staf Arab untuk menangani bagian penyambutan khusus bagi tamu Timteng. Hasilnya, 2 resornya di Penang menerima 21.478 tamu Timteng pada Januari-Agustus 2002, naik 44 persen dibanding jumlah tamu selama 8 bulan pertama 2001. Kemenonjolan Malaysia di antara negara-negara muslim didukung oleh kiprahnya di organisasi muslim dunia seperti Organisasi Konferensi Islam beranggotakan 57 negara. Juga oleh ketokohan dan high profile pemimpinnya Mahathir Mohamad. “Kami dengar Malaysia adalah tempat indah dan aman bagi muslim,” kata Nawaf al-Matouq, 28, turis dari Kuwait. “Juga, kami dengar tentang Mahathir. Jadi, kami ingin kunjungi negeri ini.” Meningkat 1600 persen Meningkatnya pelecehan dan teror terhadap kaum Muslim dan Arab di AS setelah serangan WTC 11 September sempat di akui oleh FBI. Menurut FBI. peningkatan kasus kriminalitas itu mencapai tarap mengkhawatirkan. Laporan FBI baru-baru ini menyebutkan bahwa kriminalitas terhadap umat Islam dan orang yang diduga berasal dari Timur Tengah meningkat 1600 % selama satu tahun pasca serangan WTC. Laporan FBI seperti disiarkan oleh AFP, menyebutkan tercatatnya 481 kasus kejahatan anti Muslim dan Arab paska 11 September 2001. Ini artinya, ada peningkatan yang sangat tajam disbanding tahun lalu yang Cuma terjadi 28 kasus. Aksi teror terhadap Muslim di Amerika, bahkan menduduki peringkat kriminal tertinggi dalam kriminalitas bernuansa etnis, selama 11 tahun terakhir. Jubir CAIR -Council on American Islamic Relation-yang berpusat di Washington, Ibrahim Hober, mengatakan bahwa pengakuan pemerintah AS terhadap adanya kriminalitas ini adalah sikap positif. Tapi ia menyayangkan bahwa data yang disebutkan oleh FBI masih sangat lebih sedikit dari yang sebenarnya dan telah ditemukan oleh kaum Muslimin di AS, menurut data dan investigasi CAIR. “Kebanyakan korban sungkan melaporkan tekanan yang mereka alami,” ujarnya. Data adanya teror terhadap warga muslim di AS ini akhirnya bertolak belakang dengan iklan propaganda Kedutaan Besar AS di beberapa media massa di Indonesia. Iklan soal kerukunan beragama yang bertajuk ‘Kesamaan Pandangan Muslim AS ini” semenjak puasa menjadi popaganda terselubung. Seolah-olah menyiratkan bahwa warga muslim AS selalu damai dan aman. (ap/wpd/adw/cha)