Hidayatullah.com–Pemerintah Indonesia akhirnya secara tegas menentang pemikiran Perdana Menteri Australia John Howard yang menyatakan akan siap menyerang negara-negara yang diduga menjadi melindungi teroris internasional. Sikap penolakan pemerintah RI tersebut disampaikan oleh Menlu Hassan Wirajuda kepada pers di Istana Negara, Senin sebelum menghadiri rapat khusus Bidang Polkam yang dipimpin Megawati kemarin. “Gagasan itu tidak bisa diterima karena bertentangan dengan Piagam PBB,” kata Wirayuda. Menlu Hassan Wirajuda mengatakan negara-negara gerakan Non-Blok yang mencapai 116 negara pasti akan menentang wacana yang dilontarkan Perdana Menteri Australia tersebut. “Piagam PBB menetapkan penghormatan kedaulatan satu negara serta penghormatan terhadap prinsip kebersamaan diantara semua negara,” kata Menlu Hassan Wirajuda. John Howard, baru-baru ini mengatakan negaranya tidak akan ragu-ragu menyerang negara lain yang menjadi sumber teroris. “Apabila Anda yakin seseorang akan melancarkan serangan ke negara Anda, secara konvensional maupun bergaya teroris, dan Anda punya kapasitas untuk menghentikan serta tak ada alternatif lain selain menggunakan kapasitas itu, tentu saja Anda akan menggunakannya,” ujar Howard kepada Channel Nine, Minggu (1/12) kemarin. Senada dengan Indonesia, pemerintah Malaysia juga melakukan penolakan yang sama terhadap gagasan Perdana Menteri Australia John Howard yang mengatakan negaranya akan melancarkan serangan terhadap kantong-kantong teroris di kawasan Asia. Menteri Pertahanan Malaysia Najib Razak mengatakan, negaranya tidak akan mengizinkan intervensi asing untuk memerangi terorisme di wilayahnya. “Kami tidak akan memberikan persetujuan kepada negara manapun untuk melancarkan aktivitas antiterorisme di Malaysia. Kami anggap hal itu sudah jelas. Jadi, apapun pernyataan Australia, tidak ada efeknya sama sekali, ujar Najib Razak. Malaysia, kata Najib tidak menyetujui permintaan John Howard kepada PBB untuk mengizinkan sejumlah negara melakukan serangan terhadap teroris di negara lainnya. “Kami tidak akan menyetujui ide itu sebab hal tersebut berarti merebut kedaulatan negara lain, tutur Najib Razak sengit. Australia memiliki militer paling kuat di kawasannya dengan kesatuan AU modern serta memiliki beberapa pasukan khusus. Australia telah sejak lama ingin berusaha menjadi tangan kanan Amerika di Asia Tenggara. Terbukti ketika Canberra, pada 1999, negara paling ambisius untuk mengurusi Timor Timur hingga keluar dari wilayah RI. (sn/ant/cha)