Hidayatullah.com, Meski Kuba, dikenal sebagai penghasil cerutu, Selasa, (8/2) bisa mengeluarkan larangan merokok di tempat umum. Peraturan ini hasil perjuangan kelompok sadar lingkungan di negara penghasil tembakau kelas satu di dunia itu, yang lebih dari separuh orang dewasanya adalah perokok. Warga Kuba tak hanya dipalarang merokok di ruang ber-AC, kantor-kantor, sekolah, serta pusat-pusat kegiatan olahraga, tapi juga di tempat umum. Ini merupakan program peningkatan kesehatan masyarakat yang dicanangkan oleh Presiden Fidel Castro.
Castro yang selama ini terkenal sebagai pencinta berat cerutu “Cohiba”, telah menghentikan kebiasaan merokoknya sejak dua dekade lalu dengan alasan kesehatan.
Namun banyak warga Kuba yang masih meneruskan kebiasaan merokok mereka dan masih merupakan hal yang umum melihat orang merokok di tempat-tempat umum, bahkan di rumah sakit sekali pun, meski upaya menghentilkan kebiasaan buruk itu telah dilakukan dengan berbagai cara dan dalam kurun waktu lama.
Mesin penjual rokok juga telah dilarang sebagai salah satu bagian dari kampanye anti-rokok.
Kedai-kedai minuman dan rumah makan diharuskan menyediakan ruangan khusus bagi mereka yang ingin merokok, meski sebagian di antaranya masih belum melakukannya.
Di kedai minum “Floridita”, yang merupakan tempat paling sering dikunjungi sastrawan Amerika Ernest Hemingway selama berada di Havana, sejumlah wisatawan Rusia sibuk mengepulkan asap rokok sambil menikmati minuman beralkohol yang dikomentari oleh pramu saji kedai minum tersebut dengan pernyataan “mungkin besok orang-orang tersebut akan mengehentikan kesenangan menikmati minum sambil merokok”.
Di Hotel Nacional Havana, tempat Presiden Winston Churchill dan Hemingway melakukan lomba merokok cerutu paling banyak seusai makan malam pada tahun 1946, tempat abu rokok telah hilang dari lobi.
Para tamu telah diberitahukan untuk duduk di beranda hotel apabila mereka ingin menikmati cerutu nomor satu di dunia, “Habano”, dengan minuman koktail “Mojito”.
Merokok di bandar udara internasional sudah jadi sejarah, meski perusahaan penerbangan pembawa bendera “Cubana” terkadang masih mengizinkan para penumpang untuk menikmati hisapan tembakau kelas satu didalam rute penerbangannya.
Di rumah makan masakan Cina yang terkenal, di pusat Havana “How Yueng” yang memiliki satu-satu masakan Cina yang dihidangkan adalah nasi goreng, tanda larangan tidak merokok telah terpasang selama lima tahun terakhir. Namun tidak menghalangi para pengunjung mengepulkan asap putih rokok dan cerutu mereka .
“Selama ini kami berpura-pura tidak melihat, namun sekarang kami bersikap lebih tegas,” kata pramu saji Yaily.
Sebuah tanda “Dilarang merokok” telah dipasang dikaca rumah pangkas rambut “Gerrardo ” di Havana Lama dan larangan demi larang masih tetap dilanggar para pelanggannya.
“Orang-orang yang datang ke sini masih dapat mencoba-coba rokok. NMamun kini tidak ada lagi kelonggaran karena sudah merupakan peraturan kini tak ada lagi kata maaf. Mereka harus keluar jika ingin merokok,” kata Gerrardo pemilik rumah pangkas rambut.
“Ok-ok saja, karena ruangan didalan ber AC maka mereka-mereka yang tidak meroko akan meras terganggu oleh asap, ” kata Jorge, perokok yang menghabiskan satu pak rokok sehari, saat menunggu gilirannya untuk dipangkas rambutnya di pinggir jalan, sambil menikmati rokok tanpa filter yang diisapnya.
Sulit dihapus
Keputusan larangan merokok di tempat umum sebenarnya telah ditetapkan bulan lalu disertai dengan larangan menjual rokok bagi setiap kios yang berjarak hanya 100 meter dari sekolah.
Di rumah sakit Calixta Garcia Havana, warga Kuba masih dapat membeli rokok di kantin rumah sakit itu.
Lebih dari separung orang Kuba adalah perokok. Kanker paru-paru adalah penyebab kematian terbesar di negara berpenduduk 11 juta orang itu.
Banyak warga Kuba yang bersikap skeptis terhadap peraturan melarang merokok di tempat umum .
Sejarah dunia Barat yang pertama mengenal dan menjadi kecanduan terhadap rokok dimulai di Kuba, saat Christpher Columbus membawa daun tembakau ke Amerika utara pada tahun 1402.
Para awak kapal Columbus bertemu dengan penduduk suku asli menikmati hisapan daun beraroma yang digulung. Kebiasaan itu langsung ditiru bangsa Eropa.
Generasi muda Kuba, yang memiliki kebiasaan merokok lebih rendah dari pendahulunya, menyambut baik peraturan tersebut.
“Saya mendukung sepenuhnya, saya bukan perokok dan karenanya saya tidak mengerti mengapa seseorang menjadi perokok yang membahayakan.
Beberapa hari lalu pemerintah Provinsi DKI Jakarta melaksanakan Perda yang melarang warganya merokok di tempat umum. Indonesia yang mayoritas beragama Islam seharusnya paling bisa melaksanakan Perda seperti ini. Sayangnya, para perokok berat dikenal justru tinggal di Pesantren. (rri/hid/cha)