Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Budi Paman Sam dan “Bom Moral” Kaum “Hombreng” Iraq

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Juni 2009 15:20
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Wajah Hussein (32) cemberut. Bukan apa-apa, beberapa keinginannya hatinya belum bisa dirasakan.
Hussein hanyalah secuil kisah kehidupan kaum homo atau kerap diplesetkan menjadi kaum hombreng. Di masa era jaya partai Baats di bawah Saddam Hussein, kehidupannya nyaris tak terdengar. Boleh dibilang hidup secara sembunyi-sembunyi.
Sepak terjangnya lebih tidak nyaman pasca invasi Amerika Serikat (AS) tahun 2003. Pasca hancurnya rezim Saddam, hukum berjalan amburadul. Kaum hombreng kena getahnya. Beberapa kelompok Islam bisa menculik sewaktu-waktu pengikut kelainan seks yang pernah diperangi di zaman Nabi Luth ini.
 “Saya tidak ingin menjadi gay lagi. Ketika saya keluar membeli roti, saya takut. Bila bel pintu berdering, saya berpikir mereka akan datang, “ ujarnya dikutip BBC. Tapi itu dulu, tahun 2006, ketika hukum masih berjalan di luar kendali.
Sekarang justru sebaliknya. Kehidupan kaum hombreng justru meningkat pesat, terutama setelah masuknya tentara Paman Sam pasca invasi.
Kini tidak perlu malu lagi. Ada banyak “tempat bermain” kaum homoseks, di tengah upaya kelompok sosial dan para ulama yang memperbaiki kondisi Iraq.
“Komunitas gay di Iraq semakin meningkat meskipun di tengah ancaman masyarakat pada umumnya,” ujar Salahuddin Abdullah al-Rabia’a, seorang pekerja sosial di ibukota Baghdad kepada IslamOnline.net.
Ini bertentangan dengan laporan yang menyatakan bahwa kaum homoseks Iraq masih bergerak di bawah tanah. Padahal mereka diketahui justru telah semakin merebak dan terbuka, setelah perang mencabik-cabik Iraq.
Setahun setelah AS melakukan invasi ke Iraq, ancaman para pejuang Iraq telah membuat gerak kaum gay menjadi tersembunyi.
Namun saat ini, setelah berselang tujuh tahun, komunitas gay semakin menunjukkan eksistensinya, terutama di Baghdad yang dianggap sebagai titik pertemuan sangat populer.
Dengan sedikit uang, atau sekitar US $3, sepasang gay sudah dapat menghabiskan waktunya di hotel tanpa perlu takut dengan serangan dan penangkapan dari pihak keamanan.
Bioskop, kedai-kedai minum, dan beberapa sudut lainnya, kini merupakan tempat berteduh kaum homoseks, yang kebanyakan di antara mereka adalah laki-laki.
“Saya mengizinkan perilaku homoseks di tempat saya. Jika tidak, saya terpaksa menutup tempat usaha saya karena kekurangan klien,” ujar Abu Ruwaida, seorang pemilik bioskop di pusat kota Baghdad.
“Mereka sudah dewasa dan punya kesadaran keagamaan masing-masing. Jika ada yang akan menghukum mereka, itu pasti adalah Allah dan bukan saya,” ujarnya.
Perilaku seksual merupakan hal yang sangat dilarang Islam, juga dalam semua agama Ilahiah.
Islam mengajarkan kepada umatnya bahwa orang-orang yang beriman seharusnya menjauhkan diri dari sikap tidak senonoh, sekaligus tidak membiarkan penyebaran perilaku asusila.
Lahan Pencarian Kerja
Sebagian kaum homoseks, seperti Tarik Kammar, merupakan salah seorang yang menceburkan dirinya ke dalam bisnis haram ini.
Kammar, bukan nama sebenarnya, menghabiskan waktunya untuk berdiri di pusat Baghdad demi mendapatkan klien yang biasanya berkendara dengan perlahan-lahan sambil mencari para gay sewaan.
“Saya memang gay, tapi yang menceburkan saya ke bisnis prostitusi ini adalah tidak adanya pekerjaan lain yang bisa saya lakukan di sini,” ujar pemuda berumur 26 tahun itu. Ia menambahkan bahwa biasanya ia dibayar pada kisaran US $ 5-15.     
“Kebanyakan klien saya adalah para lelaki berumur yang sudah menikah dan memiliki anak. Mereka tidak banyak bicara tapi perhiasan mereka sangat bersinar,” katanya.
Seperti kawan-kawan seprofesi lainnya, Kammar juga tidak ingin mengambil pusing adanya operasi dan ancaman kepolisian, juga peringatan kelompok Islam.
Menurut kepolisisan setempat, sejak Januari 2009 lalu, ada 25 pemuda mati di Baghdad karena mereka gay. Meningkatnya aktivitas para gay di Iraq merupakan tantangan bagi para ulama.
“Sangat jelas termaktub di kitab suci bahwa perilaku gay merupakan hal yang haram, tidak dapat diterima,” ujar Syaikh Abdurrahman Abdun, Imam Majid Rahim di Baghdad, kepada Islamonline.
Para sarjana-sarjana pun semakin meningkatkan kepedulian mereka dan selalu diingatkan dalam setiap khutbah Jumat untuk memperhatikan keluarganya dengan baik dan melindungi mereka dari perilaku asusila.
“Pendidikan agama yang baik akan mencegah perilaku demikian,” tambah Abdun.
“Ini adalah kewajiban kami untuk memperkuat masyarakat dan mencegah kerusakan akhlak agar tidak menjadi hal yang biasa di negara muslim.”
Budi Paman Sam
Sebagaimana diketahui, kegiatan homoseksualitas bukan pelanggaran di masa Saddam. Partai Baats tak berani melarang kelainan ini karena dinilai bertentangan dengan paham sekuler dan sosialis. Namun tetap saja kegiatan mereka melahirkan perlawanan di masyarakat.
Namun suasananya menjadi lain tatkaka kehadiran pasukan Paman Sam tahun 2003 masuk Iraq, dengan mengerahkan  lebih dari 100.000 pasukan dan berbagai peralatan perang terkini. Amerika Serikat dan koalisinya tak hanya mengeluarkan bom-bom canggih dan senjata terbaru. Ia juga menampilkan “bom-bom moral” paling berbahaya bagi warga Sunni dan Syiah Iraq.
Perubahan luar biasa mulai kelihatan setelah tahun 2003 Paman Sam mengirim orang-orangnya. Di antaranya Utusan Presiden dan Administrator AS, Paul Bremer dan Letjen. Jay Garner. Seperti pendekar sakti tanpa tanding, AS mengganti seenaknya hukum dan UU di Negeri 1001 Malam itu.
Pemerintahan Koalisi Sementara  Iraq [PKSI] dibentuk sebagai pemerintahan sementara setelah invasi. Bremer mengembalikan Resolusi 1483 (2003) di bawah Dewan Keamanan PBB, dan undang-undang perang. Tak hanya itu, PKSI mengambil alih kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif atas pemerintahan Iraq hingga pembubarannya pada 28 Juni 2004.
PKSI diciptakan sebagai kepanjangan tangan langsung Amerika Serikatdan menegakkan otoritasnya selama pendudukan Iraq. PKSI juga membentuk Dewan Pemerintahan Iraq dan menunjuk anggota-anggotanya. Keanggotaan Dewan ini pada umumnya terdiri dari orang-orang Iraq yang dulunya tinggal di luar negeri, yang melarikan diri pada masa pemerintahan Saddam Hussein dan banyak pembangkang vokal yang ditindas oleh rezim sebelumnya.
Dampaknya tak sedikit, Amerika memberi kelonggaran kaum homoseksual di Negara itu. Tak hanya itu, kedatangan pasukan penjajah ini juga mempertontonkan pemandangan tak lazim. Pasangan homo tentara AS sekaligus menjadi promo homoseksual. Setelah budi baik Paman Sam, hari ini, mereka mungkin sedang berpesta. [atj/cha, berbagai sumber/hidayatullah.com]
 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Bisnis Berbasis Amanah, Masih Adakah?
Tulisan selanjutnya Sebutan Mukarramah dan Munawwarah adalah Ijma` Ulama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?