Hidayatullah.com–Seorang mantan mata-mata Pengawal Revolusi Iran Senin (5/10) mengungkapkan tentang keberadaan ribuan agen rahasia yang bekerja untuk Republik Islam Iran di sebagian besar negara Arab, terutama yang berada di kawasan Teluk Arab.
Mantan agen rahasia yang menolak untuk disebut namanya dengan alasan keamanan ini mengatakan, bahwa ada 40.000 mata-mata Iran di negara-negara Teluk. 3.000 orang di antaranya beroperasi di Kuwait.
Ia menambahkan, banyak di antara mereka merupakan agen bayaran yang terbatas hanya melakukan tugas-tugas tertentu, sementara lainnya adalah pegawai reguler di Pengawal Revolusi.
Mantan anggota telik sandi itu menolak pernyataan yang mengatakan bahwa agen-agen Iran adalah agen tidur. Dikatakan olehnya bahwa mereka melakukan tugas rutin mengumpulkan informasi mengenai kemampuan militer, infrastruktur, dan institusi kunci ekonomi negara-negara Teluk.
“Sel mata-mata ini dirangkai dengan keterampilan, seperti halnya menenun karpet Persia; mereka biasanya terdiri dari 4 personel ditambah seorang komandan dan tidak ada satu pun yang mengetahui apa tugas dan misi agen lainnya,” katanya, seraya menambahkan bahwa Iran menyediakan anggaran dalam jumlah yang sangat besar untuk kegiatan mata-mata di luar negeri.
Agen rahasia yang berasal dari kota Ahwaz — yang mayoritas penduduknya keturunan Arab — ini memulai tugasnya di Pengawal Revolusi sebagai seorang agen dengan misi penyamaran, 2 tahun sebelum perang Iran-Irak berakhir tahun1988.
“Saya awalnya tertipu dengan slogan yang mengatakan bahwa Republik Islam Iran membela Islam,” katanya menceritakan alasan mengapa ia mau bergabung dalam dunia intelijen.
Ketika masih aktif, tugas utamanya adalah mengawasi dan memberikan informasi mengenai pemimpin-pemimpin oposisi Iran yang berada di negara-negara Teluk.
Agen ini berasal dari Ahwaz, ibukota propinsi Khuzestan yang terletak di baratdaya Iran. Daerah itu merupakan kampung halaman dari Ahwaz Arab Renaissance Party (AARP), sebuah organisasi di Kanada yang mendukung perlawanan terhadap pemerintah Iran.
Ia akhirnya memutuskan untuk berhenti menjadi mata-mata setelah “menyadari betapa pemerintah bersikap diskriminatif terhadap prajurit keturunan Ahwaz yang berperang untuk Iran ketika melawan Irak.” Ia menambahkan, “Prajurit keturunan Arab Ahwaz yang terluka sering kali diberi perawatan medis di tanah, sementara orang Iran keturunan Persia dirawat di atas tempat tidur rumah sakit.”
Ketika dirinya mengajukan surat pengunduran diri kepada otoritas intelijen Iran, permohonannya berkali-kali ditolak. Dan ia berada di bawah pengawasan terus menerus selama 5 tahun, sebelum akhirnya benar-benar keluar dan diperbolehkan untuk bermukim di luar negeri. Demikian cerita mantan anggota telik sandi Iran itu kepada Alarabiya.
Mantan agen rahasia ini menunjukkan beberapa dokumen yang menjabarkan sebagian misi intelijennya dan komando-komando dari Pengawal Revolusi Iran. Namun, ia meminta agar dokumen tersebut tidak ditunjukkan kepada publik, karena alasan keamanan pribadinya. [di/ab/hidayatullah.com]