Hidayatullah.com–Kepala Komite Rekruitmen di Kamar Dagang dan Industri Riyadh, Saad al-Baddah, hari Sabtu (4/12) menyalahkan media Saudi karena melebih-lebihkan pemberitaan kasus penyiksaan pembantu rumah tangga.
“Media kita tidak memainkan peran seimbang,” katanya. “Mereka hanya menyoroti sisi negatif dan tidak menampilkan contoh-contoh positifnya.”
Menurutnya, para reporter harus mengirim jurufoto ke bandara-bandara untuk memotret para pembantu yang akan pulang ke negaranya, setelah bertahun-tahun bekerja di Saudi. Barang bawaan mereka dipenuhi dengan hadiah-hadiah pemberian majikan Saudi yang baik hati. Mereka menangis sedih karena harus pergi, teringat begitu banyak pengalaman indah selama di Saudi.
Al-Baddah mengatakan, media seharusnya juga menggarisbawahi tentang hukuman yang dijatuhkan kepada majikan yang menyiksa pembantunya, berikut peran organisasi HAM Saudi dalam merespon kasus-kasus pelanggaran.
“Wanita yang menyiksa Sumiati sudah ditahan dan akan segera diadili, tapi masih belum ada koran yang memusatkan perhatian pada hal tersebut. Dan tentu saja, tidak ada satu pun yang mengekspos kejadian yang sebenarnya, sebagaimana pula media tidak resmi Indonesia melaporkan bahwa bibir dan lidahnya (Sumiati) dipotong dengan gunting, yang mana berita tersebut sangat jauh dari kebenaran,” kata Al-Baddah.
Dan ketika para pembantu melakukan kekerasan pada majikan mereka, kata al-Baddah lagi, media justru menyembunyikan identitas para pembantu.
Al-Baddah memuji reaksi sepantasnya yang ditunjukkan oleh pemerintah Indonesia, yang menyatakan bahwa kasus seperti ini tidak banyak.
“Ada 1,5 juta pekerja Indonesia di Kerajaan (Saudi) dan hanya segelintir insiden yang muncul,” tambah al-Baddah, yang menyebut liputan negatif bukan propaganda Indonesia.
“Wajar bagi negara lain untuk mengkhawatirkan keadaan warga negara mereka, tapi sikap berlebih-lebihan dapat menyebabkan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan.” [di/an/hidayatullah.com]