Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Hanya Penentang Jilbab yang Selalu Diberi Tempat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Juli 2011 09:00
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Bertahun lamanya jilbab menjadi perdebatan sengit di kalangan politisi Belanda. Negara Eropa barat lainnya juga tak ketinggalan. Masalah jilbab perempuan Muslim masih menjadi bahan diskusi yang tak ada hentinya. Kendati demikian tak pernah ada kesimpulan, pendapat soal ini justru terbelah. 

Prancis melarang murid dan guru perempuan mengenakan jilbab di sekolah-sekolah umum sejak tahun 2004. Sementara di beberapa wilayah di Jerman larangan itu hanya berlaku untuk para guru perempuan. Di Belanda juga masih berlangsung debat sengit dan sampai saat ini belum ada kesimpulannya.

Doutje Lettinga, dari Vrije Universiteit di Amsterdam Belanda, melakukan penelitian soal debat politik menyangkut jilbab. Konsep nasional soal agama dan etnis memainkan peran penting.

Menurut Lettinga, tradisi Prancis adalah sekuler. Agama hanya boleh dijalankan di rumah serta di wilayah pribadi lainnya. Sementara Belanda mengizinkan ekspresi keagamaan di tempat-tempat umum dan semua agama dianggap sama rata. Sementara di beberapa wilayah negara bagian Jerman, kelompok mayoritas diizinkan untuk mengenakan simbol agama, sedangkan minoritas tidak. Seorang biarawati boleh memberikan pelajaran dengan jubahnya

Isu Politik

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Jilbab menjadi pembicaraan hangat di antara partai politik, sebagai dampak munculnya partai-partai populis. Para kritisi beranggapan, jilbab sebagai simbol kegagalan integrasi dan penindasan perempuan.

Belanda—yang sejak tahun 90 an menerima kritik soal kehidupan multikultural—juga tak ketinggalan. Perdebatan politik soal jilbab terus menghangat. Suara perempuan pemakai jilbab sendiri tidak terdengar.

Menurut Lettinga, dari sekian ratus debat, diskusi politik dan mosi yang diamatinya, hanya ada sedikit perempuan berjilbab yang diundang untuk mengeluarkan pendapatnya. Sementara perempuan muslim yang menentang jilbab justru mendapat kesempatan untuk berbicara.

Hal itu terutama terjadi di Prancis dan Jerman. Sementara di Belanda perempuan yang mengenakan jilbab dapat mengadukan nasibnya ke Komisi Penanganan Kesamaan Hak, yang merupakan wadah bagi para muslimah untuk menuntut haknya.

Percaya Diri

Familie Arslan adalah pengacara pertama di Belanda yang mengenakan jilbab. Para hakim dan jaksa dilarang mengenakan penutup kepala muslimah untuk tetap menjaga kenetralan dan keimbangan. Sementara pengacara boleh mengenakannya. Jilbab merupakan pembicaraan yang tak ada habisnya di Belanda.

”Dulu anda kadang anda melihat perempuan dengan jilbab yang bekerja membersihkan rumah. Anak-anak para pekerja migran kini lebih banyak yang berpendidikan tinggi dan memiliki posisi yang baik dalam masyarakat. Mereka berpandangan: Saya menjalakan agama saya. Sikap percaya diri seperti itu banyak menimbulkan perlawanan.”

Debat Menguntungkan

Para penentang jilbab secara terbuka mengeluarkan pendapatnya. Pemimpin PVV Geert Wilders pernah mengusulkan pajak untuk para pemakai jilbab.

“Pajak kain usang penutup kepala”, namanya. Baik istilah dan usulannya itu memukul para muslimah. Sementara anggota liberal parlemen Jeanine Hennis seperti halnya PVV mengusulkan larangan mengenakan jilbab di kantor pemerintah.

Pengacara Arslan mengatakan diskusi itu justru memperkuat posisi pemakai jilbab.

”Yang terjadi di Belanda tampaknya mengejutkan, jika dipandang dari luar. Namun sebetulnya Belanda lebih maju dibanding negara-negara lainnya. Di Belanda, debat jilbab berlangsung terang-terangan. Itu lebih baik, daripada pertentangan yang tidak terlihat. Akibat Wilders, para muslim setidaknya bergerak untuk lebih gencar lagi menuntut haknya.”

Pemerintah kini sedang menggarap nota integrasi yang berisi antara lain penerapan larangan mengenakan burka mulai tahun 2013. Sementara soal larangan mengenakan jilbab pun sampai saat ini belum diputuskan. *

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Najib: Mustahil Beda Keyakinan Jadi Keluarga Sakinah
Tulisan selanjutnya Permainan Asing dalam Revolusi Arab

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Buya Hamka, Tontonan Penuh Tuntunan

Berita
28 Oktober 2026 13:17
Parlemen Mesir Restui Dukungan Militer untuk Arab Saudi
Menteri Ekstremis Zionis Terobos Masjidil Aqsha Jelang Pemilu ‘Israel’
Sekolah Pemikiran Islam Raih Penghargaan Muslim Youth Forum 2026
Serangan ‘Israel’ Hantam Universitas Islam Gaza, Tiga Warga Syahid dan Tujuh Luka

Terbaru

  • Jurnalis Asing Jadi Korban Serangan Pemukim Ilegal ‘Israel’, Dipukuli Hingga Gegar Otak
  • Parlemen Turki Setujui RUU Ratifikasi Pakta Pertahanan Mekkah
  • Film Hamka Awal Mula Vol. 3 Tuntunan di Tengah Krisis Keteladanan
  • Prioritaskan Warganya Malaysia akan Kurangi Pekerja Asing
  • BPJPH Dukung Gen Halal Championship, Siapkan Generasi Penggerak Ekosistem Halal
  • Buya Hamka, Tontonan Penuh Tuntunan
  • Sekolah Pemikiran Islam Raih Penghargaan Muslim Youth Forum 2026
  • Patriotik, Gigih, Berempati: Siapa yang Bertanggung Jawab atas Masa Depan Pemuda?
  • Pejabat Malaysia Sebut Waze Petakan Lokasi Sensitif Negara
  • Macklemore Janji akan Menyuarakan Pembebasan Palestina Sampai Napas Terakhir

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?