Hidayatullah.com–Prancis akhirnya sedikit melunak terhadap Muammar Qadhafi, dengan menerima keinginan pemimpin Libya itu untuk tetap tinggal di Libya jika mau mundur dari jabatannya.
“Kemungkinan dia bisa tinggal di Libya bia dipertimbangkan dengan syarat yang jelas yaitu dia harus menyingkir dari kehidupan politik di Libya,” kata Menteri Luar Negeri Prancis Alain Juppe kepada televisi LCI, Rabu (20/7).
“Itu yang kami tunggu sebelum kami memulai proses politik untuk gencatan senjata,” imbuhnya.
Gencatan senjata, kata Juppe, berarti Qadhafi harus menyerahkan tanggung jawab sipil dan militernya.
Prancis sedari awal dilakukan serangan atas pemerintah Libya, selalu berperan di depan dibandng negara lain dalam mencampuri konflik Libya.
Sebagaimana dilansir AFP (17/7) dari sumber tertutup, kabarnya Rabu ini, pemimpin pemberontak dari kota Misratah bertemu dengan Presiden Nicolas Sarkozy, guna membicarakan bantuan tambahan untuk pertempuran.
Kantor kepresidenan Sarkozy menolak untuk memberi komentarnya.
Mahkamah internasional telah menjadikan Muammar Qadhafi sebagai penjahat perang yang harus diadili. Tidak jelas apakah ia bisa ditangkap di Libya, jika bersedia mundur dan meletakkan jabatannya.*