Hidayatullah.com–Pejabat pemerintah sementara di Libya mengatakan mantan pemimpin Moammar Qadhafi telah tewas setelah terluka dalam pertempuran pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC) saat memperebutkan kota Sirte. Laporan ini belum dapat dikonfirmasikan secara independen.
Menteri Penerangan Mahmoud Shammam mengatakan para pejuang memberi tahu bahwa mereka telah melihat jenazah Qadhafi, dan para pejabat lain juga mengatakan ia telah meninggal.
Sayangnya, pernyataan itu belum dapat dipastikan secara independen. Laporan lain menyebutkan ia ditangkap hidup-hidup.
Laporan itu muncul setelah pasukan transisi mengklaim mereka menguasai Sirte, tempat kelahiran Qadhafi, setelah pertempuran berminggu-minggu.
Sejumlah laporan yang belum dapat dipastikan menyebutkan sebelumnya Kolonel Qadhafi terluka dalam penyerangan itu.
Qadhafi digulingkan bulan Agustus lalu oleh milisi pemberontak atas bantuan Amerika, Prancis, Inggris dan NATO setelah 42 tahun berkuasa.
Mahkamah Kejahatan Internasional mengupayakan penahanannya.
“Ia ditangkap. Ia terluka di kedua kakinya,” kata pejabat Dewan Transisi Nasional (NTC) Abdel Majid kepada kantor berita Reuters.
Sebelumnya, Kamis (20/10)/2011, para pemimpin militer NTC mengatakan Qadhafi telah ditahan, dan bahwa ia terluka parah. Ketua NTC Mustafa Abdel Jalil diharapkan akan segera memberi pernyataannya.
Pasukan NTC mengibarkan bendera baru Libya di pusat kota Sirte, Kamis pagi waktu setempat, sementara suara tembakan perayaan dan klakson mobil menggantikan tembakan senjata dan meriam yang terdengar di kota ini selama beberapa pekan belakangan.
Direbutnya kota Sirte ini terjadi dua bulan setelah pasukan yang setia kepada Dewan Transisi Nasional mengambil alih ibukota, Tripoli, memaksa Moammar Qadhafi dan keluarnya untuk melarikan diri. Salah seorang anak lelakinya, Muatassim, dipercaya termasuk salah satu yang ikut bertempur di Sirte, di mana pasukan NTC menggeledah rumah-rumah mencari mereka yang setia terhadap mantan pemimpin Libya tersebut.
Pernyataan kemenangan di Sirte diharapkan memulai langkah-langkah politik yang mengarah pada diselenggarakannya pemilu, pembentukan pemerintahan dan konstitusi baru. Langkah-langkah tersebut akan signifikan artinya bagi negara yang selama 40 tahun berada di bawah kekuasaan Qadhafi yang memerintah seorang diri.
Dikuasainya Sirte menyusul sukses pasukan NTC di kota daerah pro- Qadhafi lainnya, Bani Walid, pada awal pekan ini. Pertempuran masih berlangsung di sebelah selatan negara Libya, di daerah padang pasir yang berbatasan dengan Niger, Aljazair dan Chad. Tapi kekuasaan atas kota Sirte merupakan sebuah kemenangan simbolik, menyatukan menyatukan koridor populasi utama mulai dari pesisir timur hingga barat.
Pakar Libya, Ziad Akl, dari Ahram Center di Kairo mengatakan pasukan Qadhafi mengalami kesulitan untuk terus bertempur.
“Pertama-tama, mereka tidak terorganisasi dengan baik, tidak punya strategi tertentu, dan mereka tidak berjuang untuk menang,” ujar Akl dikutip Voice of Amerika (VoC).
“Mereka hanya berupaya untuk mempertahankan posisi mereka sekarang dan menghentikan berkembangnya revolusi, padahal ini pertempuran yang berkembang dengan cepat.”
BBC melaporkan, walaupun berita penangkapan itu belum dipastikan, mobil-mobil membunyikan klakson di ibukota dan senjata ditembakkan ke udara sebagai tanda perayaan.
Sebelumnya, para komandan NTC di Sirte yang terletak sekitar 360 kilometer di timur Tripoli, mengatakan kota itu telah mereka kuasai.
“Tidak ada lagi pasukan Qadhafi,” kata Kolonel Yunus al-Abdali kepada kantor berita Reuters.
“Kami sekarang mengejar pejuang yang mencoba melarikan diri.
Jika benar itu yang terjadi, maka sebagian besar kontak senjata yang telah berlangsung berbulan-bulan di Libya telah usai Kamis ini.
Hari Senin lalu (17/10) NTC mengatakan mereka menguasai 90% kota itu termasuk kawasan pusat kota.*