Hidayatullah.com–Dua orang kakak-beradik Shabnam dan Sadaf Rahimi, sedang berlatih keras di sebuah sanana tinju sederhana di Afghanistan. Namun, cita-cita mereka tidak sederhana, yaitu meraih emas olimpiade cabang tinju wanita.
“Menjadi seorang petinju adalah impian saya. Awalnya ayah saya tidak setuju. Beliau bilang anak perempuan seharusnya tidak bertinju,” kata Sadaf kepada Reuters.
“Setelah saya mendapatkan medali pertama, beliau mengubah pendapatnya,” imbuh Sadaf, sambil terengah-engah setelah meninju samsaknya.
Tiga kali seminggu, gadis berusia 18 tahun itu berlatih bersama saudara perempuannya di stadion Ghazi.
Walaupun sebuah stadion, sasana tinju di sana sederhana. Di tempat latihan hanya ada empat samsak. Cermin-cerminnya pecah, lantainya beton beralaskan karpet lapuk berwarna merah muda dan hijau. Beberapa gadis yang sedang berlatih terlihat pengenakan penutup wajah agar terhindar dari debu lantai yang beterbangan.
Konon, stadion tersebut dulu pernah dijadikan Taliban sebagai lokasi pemberian hukuman di depan publik bagi para pezina.
Mendengar cerita seram tentang tempat itu, membuat Sadaf terkadang merinding ketakutan.
“Keluarga saya melarikan diri ke Iran saat Taliban berkuasa … Saya mendengar bahwa perempuan di bunuh di tempat ini dan kadang-kadang saat berlatih sendirian di stadion saya ketakutan,” cerita Sadaf.
Saat Taliban berkuasa, perempuan tidak bisa berolahraga di tempat umum, apalagi menjadi atlet. Masyarakat luas pun masih menilai tabu jika perempuan menjadi olahragawan.
Maka tidak heran, jika sekarang terlihat sejumlah anak laki-laki ingin tahu seperti apa anak perempuan berolahraga. Mereka mengintip dari jendela, memperhatikan para gadis yang sedang melayangkan tinjunya ke kantong-kangtong samsak.
Namun ada juga yang tidak sekedar penasaran, tapi lebih nekat.
“Dua tahun lalu seseorang menelepon ayah saya… dan dia mengancam akan menculik atau membunuh saya jika beliau membiarkan kami berlatih,” kata Shabnam, 19 tahun.
Akibatnya, mereka tidak berlatih selama satu bulan, sampai pelatih mereka menyediakan transportasi untuk mereka. Latihan di sasana pun dibatasi, hanya dilakukan jika ada jaminan keamanan dari aparat.
Tim tinju wanita Afghanistan dibentuk oleh komite olimpiade negeri atap dunia itu pada tahun 2007. Tujuannya, mendorong remaja-remaja putri agar berani memperjuangkan cita-cita mereka.
“Kami ingin menunjukkan pada dunia bahwa perempuan Afghanistan juga bisa menjadi pemimpin, bahwa mereka bisa melakukan apapun, bahkan bertinju,” kata Muhammad Saber Sharifi, pelatih tim putri.
Walaupun mendapat dukungan finansial dari Komite Olimpiade Afghanistan, pemerintah setempat dan Cooperation for Peace and Unity, tapi peralatan penunjangnya masih terbatas.
Pada Olimpiade 1012 di London, cabang tinju wanita untuk pertama kalinya akan dipertandingkan. Meskipun belum ada atlet Afghanistan yang pernah meraih medali di olimpiade, namun keberhasilan atlet Rohullah Nikpai meraih perunggu di cabang taekwondo di Beijing 2008 menjadi pemicu semangat para gadis petinju itu.
“Saya ingin menjadi seorang petinju yang baik agar dapat memberikan kebanggaan lebih banyak bagi negara saya. Impian saya adalah mengibarkan bendera Afghanistan, untuk negara saya,” kata Shabnam.
Kedua gadis kakak beradik itu bercita-cita berbagi podium juara. Paling tidak, mereka sudah memiliki modal untuk menjadi juara dunia. Shabnam meraih medali emas dalam kompetisi di Tajikistan tahun 2011, sementara adiknya mendapatkan medali perak.*