Hidayatullah.com–Anggota parlemen Malaysia pada Selasa (27/11/2012) menyetujui larangan ucapan-ucapan bernada seksis di parlemen, setelah sejumlah kasus anggota parlemen laki-laki telah menimbulkan kemarahan akibat komentar mereka di persidangan.
Dengan perubahan pada kode etik perilaku di Dewan Rakyat, atau majelis rendah parlemen, tersebut, akan menyebabkan setiap anggota parlemen yang membuat “ucapan seksis”, menurut anggota oposisi di parlemen Fong Po Kuan kepada AFP, akan menghadapi teguran atau bahkan dipecat.
“Memang baik adanya aturan itu, dengan tegas semua anggota parlemen sekarang harus menganggapnya serius,” katanya. “Bahwa komentar-komentar yang bersifat seksis tidak boleh dilakukan.”
Beberapa anggota parlemen Malaysia di masa lalu telah memicu kontroversi dengan ucapan-ucapannya di parlemen yang dipandang menghina perempuan.
Pada tahun 2007 telah Fong menjadi sasaran pernyataan, yang menyinggung siklus menstruasinya, ketika anggota parlemen partai berkuasa Bung Mohktar mengatakan dalam satu diskusi tentang atap bocor parlemen: “Kebocoran Gedung Parlemen Batu Gajah seperti kebocoran yang datang setiap bulan.”
Fong menggambarkan amandemen kode etik sebagai “langkah yang baik”. Ia menambahkan, juru bicara yang berkomentar tidak pantas, harus memahami “sensitif gender dan berdiri pada posisi sama”.
Dia menyarankan, sebagai diberitakan laman Bangkok Post, pelatihan terhadap sensitivitas gender perlu diberikan pada semua anggota parlemen.
Menteri Kehakiman Nazri Aziz, seperti diberitakan harian The Star, mengatakan, perubahan kode etik itu bertujuan untuk menghentikan pernyataan seksis, “sekali dan untuk semua”.
“Akhir-akhir ini terjadi banyak kasus. Kami ingin menempatkan rem di atasnya … Hal ini untuk menjaga kehormatan wanita,” katanya.
Samy Vellu, mantan anggota parlemen dan Presiden Partai Kongres keturunan India di Malaysia yang berkoalisi dengan partai berkuasa, dilaporkan pernah berkata: “Toilet seperti pengantin baru, setelah mereka selesai melakukan urusannya. Mereka mendapatkan sedikit manja. Untuk suatu keperluan, Anda membutuhkan seseorang untuk membersihkan setiap 25 menit. “
Anggota oposisi di parlemen Nurul Izzah Anwar, putri pemimpin oposisi Anwar Ibrahim, mengatakan hari Selasa, perlu dilakukan untuk membantu anggota parlemen perempuan, seperti mendirikan sarana penitipan anak di parlemen.*