Hidayatullah.com—Menaikkan batas usia lulus sekolah siswa pendidikan dasar mulai tahun ini akan menekan angka kehamilan remaja Inggris, yang sekarang tertinggi di Eropa, begitu menurut hasil sebuah penelitian.
Dilansir The Guardian (7/4/2013), jumlah gadis remaja yang melahirkan anaknya lima kali lebih tinggi dibanding negara Belanda, dua kali jumlah persalinan remaja di Prancis dan lebih dari dua kali lipat dibanding negara Jerman. Tingginya angka persalinan di kalangan anak perempuan usia belasan tahun ini menjadi keprihatinan para politisi dari semua partai di Inggris.
Menurut peneliti yang mempresentasikan makalahnya dalam konferensi tahunan Royal Economic Society 3-5 April 2013 kemarin, diperkirakan angka persalinan remaja akan bisa ditekan dengan menaikkan batas usia lulus sekolah dari 16 tahun menjadi 17 tahun.
Rencana menaikkan batas usia lulusan sekolah itu pernah dibatalkan pada tahun 2007, dengan pertimbangan akan terdapat banyak remaja berusia 17 tahun yang pengangguran atau tidak memiliki aktivitas seperti sekolah, kursus, pelatihan atau bekerja.
Namun, pada musim panas tahun 2013 ini, kenaikkan batas usia lulusan sekolah itu akan diimplementasikan. Keputusan ini menjadi kebijakan serupa kedua setelah pada tahun 1972 England dan Wales menaikkan batas usia lulus pendidikan dasar dari 15 tahun menjadi 16 tahun.
Kesimpulan peneliti Tanya Wilson dari fakultas ekonomi Universitas Royal Holloway, London, yang meyakini bahwa angka persalinan remaja dapat ditekan jika batas usia lulusan sekolah dinaikkan diambil dari analisanya terhadap angka fertilitas remaja antara tahun 1946-1984. Dia mendapati, setelah batas usia lulus sekolah diterapkan tahun 1972, jumlah remaja yang melahirkan anak menurun hingga 7%. Bahkan di kalangan usia di bawah 16 tahun, angka persalinan remaja turun hingga 17%.
Menurut Wilson, hal itu dikarenakan adanya “efek pemenjaraan” bagi remaja yang masih duduk di bangku sekolah, di mana mereka terdorong untuk menghindari resiko kehamilan remaja selama belum menuntaskan pendidikannya.
Lebih lanjut perempuan itu mengatakan, kecenderungan yang sama terjadi dalam kasus kriminalitas remaja, yang jumlahnya menurun ketika batas usia lulus sekolah dinaikkan.*