Hidayatullah.com — Turki dan Israel telah sepakat untuk memulihkan hubungan diplomatik penuh dan akan kembali menempatkan duta besar di masing-masing negara.
“Peningkatan hubungan akan berkontribusi untuk memperdalam hubungan antara kedua bangsa, memperluas hubungan ekonomi, perdagangan dan budaya, dan memperkuat stabilitas regional,” kata pernyataan dari kantor Perdana Menteri ‘Israel’ Yair Lapid pada Rabu.
Lapid mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “memulihkan hubungan dengan Turki adalah aset penting bagi stabilitas kawasan dan memiliki signifikansi ekonomi yang besar bagi warga ‘Israel’.
“Kami akan terus bekerja dan memperkuat posisi internasional ‘Israel’ di dunia,” ujar Lapid.
Sementara pada gilirannya, Menlu Turkiye Mevlut Cavusoglu menyebut bahwa penunjukan dubes adalah salah satu langkah normalisasi hubungan.
“Langkah positif seperti itu datang dari Israel sebagai hasil dari upaya ini, dan sebagai Turki, kami juga memutuskan untuk menunjuk seorang duta besar untuk Israel, untuk Tel Aviv,” kata Menlu Cavusoglu.
Cavusoglu menambahkan bahwa langkah itu tidak berarti bahwa Turki akan meninggalkan perjuangan Palestina.
Setelah bertahun-tahun hubungan tegang antara Turki dan ‘Israel’, negara-negara ini melunakkan sikap mereka terhadap satu sama lain.
Pada 2010, hubungan antara Turki dan Israel memburuk setelah sembilan aktivis di atas armada Turki yang membawa bantuan untuk Gaza tewas dalam serangan Israel. Sebagai tanggapan, Ankara segera menarik duta besarnya.
Setelah enam tahun hubungan ditangguhkan, kedua negara memulihkan hubungan diplomatik, mengangkat kembali duta besar pada 2016.
Namun dua tahun kemudian, menyusul keputusan AS untuk memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke Yerusalem, Turki sekali lagi mengusir duta besar ‘Israel’ di Ankara dan menarik utusannya dari ‘Israel’.
Turki saat ini sedang mengalami krisis ekonomi yang parah dan telah menjangkau negara-negara tetangga, termasuk ‘Israel’, untuk meningkatkan hubungan ekonomi.*