Hidayatullah.com—Utusan khusus Liga Arab dan PBB untuk Suriah Lakhdar Brahimi mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa pemilihan kembali Bashar Al-Assad sebagai presiden akan memperumit upaya perdamaian.
Mengutip para diplomat, AFP melaporkan bahwa Brahimi mengatakan dirinya ragu 7 tahun perpanjangan masa jabatan Assad dapat mengakhiri penderitaan rakyat Suriah.
Menurut diplomat senior asal Aljazair itu, pemilihan presiden tersebut akan membahayakan upaya negosiasi guna mengakhiri perang sipil di Suriah yang telah berlarut hingga 3 tahun ini.
“Jika ada pemilihan, saya menduga oposisi, semua oposisi mungkin tidak akan tertarik berbicara dengan pemerintah,” kata Brahimi, Kamis (13/3/2014).
Pernyataan Brahimi itu dikemukakan setelah kemarin parlemen Suriah sepakat secara bulat untuk menggelar pemilihan umum.
Secara teoritis, undang-undang pemilihan umum yang baru memungkinkan banyak orang untuk mencalonkan diri sebagai presiden Suriah.
Para pejabat Suriah mengatakan pemilu akan digelar sesuai rencana dan Bashar Al-Assad akan mencalonkan diri lagi, meskipun dia belum mengkonfirmasinya secara resmi.
Pemilu harus digelar antara 60 hingga 90 hari sebelum periode jabatan Assad berakhir pada 17 Juli 2014.*