Hidayatullah.com–Setidaknya 30 orang tewas dan 10 luka-luka dalam bentrok antara mayoritas milisi Kristen dengan minoritas Muslim di wilayah konflik, Republik Afrika Tengah (CAR).
Para pejabat mengatakan sebagian besar korban tewas di kota Dekoa adalah warga sipil yang terkena peluru nyasar.
Kekerasan terjadi di Dekoa bersamaan dengan tibanya pasukan Uni Eropa pertama di ibukota Republik Afrika Tengah, Bangui untuk bergabung dengan 8.000 pasukan keamanan Prancis dan Afrika yang berjuang meredam kerusuhan yang semakin meruncing di wilayah itu, demikian kutip BBC, Kamis (10/04/2014). Dewan Keamanan PBB diharapkan melakukan otorisasi sementara hari Kamis dalam penggunaan 12.000 pasukan untuk meringankan pasukan Prancis dan Afrika di negara miskin ini.
Selasa (01/04/2014), lalu, PBB berencana mengevakuasi 19.000 warga Muslim yang tersisa dari ibu kota Bangui dan bagian lain Republik Afrika Tengah (CAR) yang saat ini sedang dikepung oleh milisi Kristen anti-Balaka.
Pasukan anti-Balaka menguasai jalur utama ke dan dari Bangui serta banyak kota dan desa di barat daya negeri itu, kata badan pengungsi PBB (UNHCR). Milisi telah menjadi lebih militan dengan meningkatkan serangan terhadap warga Muslim dan pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika.
“Apa yang kami tidak inginkan adalah berdiam diri dan menonton orang-orang dibantai,” kata juru bicara UNHCR, Fatoumata Lejeune-Kaba, dalam jumpa pers.
“Ini bisa terjadi karena satu-satunya hal yang menjaga mereka dari pembunuhan saat ini adalah kehadiran pasukan Perancis dan MISCA,” katanya merujuk pada pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika, yang dikenal sebagai MISCA.
Sebelumnya, pasukan Seleka, yang mayoritas Muslim, merebut kekuasaan tahun 2013 lalu dan melakukan serangan terhadap penduduk mayoritas Kristen sehingga memicu gelombang serangan balas dendam, yang menyebabkan ribuan kematian dan ratusan ribu orang mengungsi.
Gerilyawan Seleka memberi jalan bagi pemerintahan sipil sementara pada Januari. Namun, pemerintah—yang didukung 2.000 prajurit penjaga perdamaian Prancis dan 6.000 personel pasukan Uni Afrika—tidak mampu menghentikan serangan milisi anti-Balaka terhadap warga Muslim.
Akibatnya, ribuan di antara mereka memilih melarikan diri dan menjadi pengungsi ke negara tetangga atau mencari perlindungan di kamp-kamp PBB.
Milisi anti-Balaka merupakan ancaman bagi masyarakat di ibu kota Bangui, sejumlah kota seperti Boda, Berberati, dan Carnot, serta di sebelah barat ibu kota dan Bossangoa ke utara, kata Lejeune-Kaba.
“Kami mengkhawatirkan nyawa 19.000 Muslim di lokasi tersebut,” tambah Fatoumata Lejeune-Kaba.
UNHCR siap membantu evakuasi mereka ke daerah yang lebih aman, baik di dalam maupun luar negeri,” katanya.
Sekjen PBB, Ban Ki Moon mengatakan bahwa kekerasan telah mengarah ke genosida.*