Hidayatullah.com—Pemungutan suara dalam rangka pemilihan presiden sudah dimulai untuk warga Mesir yang tinggal di luar negeri, sementara kelompok Al-Ikhwan Al-Muslimun dan pendukungnya menyerukan boikot.
Dilansir Ahram Online, warga Mesir di perantauan mulai memberikan suara mereka di tempat-tempat pemungutan suara (TPS) sejak hari Kamis (15/5/2014) di kedutaan dan konsulat Mesir yang tersebar di 124 negara. TPS dibuka mulai pukul 9 pagi hingga 9 malam waktu setempat sampai hari Ahad besok.
Kementerian Luar Negeri mengatakan, jumlah pemilik suara di luar negeri dalam pemilu kali ini hampir sama dengan pemilu sebelumnya.
Perkiraan resmi menyebutkan sekitar 6-8 juta warga Mesir tinggal di negara-negara Asing. Di mana hampir 45 persen di antaranya berada di Arab Saudi.
Adel Alfy konsul Mesir di Jeddah mengatakan, kantornya kedatangan sekitar 700 pemilih dalam waktu beberapa jam saja, meskipun udara sangat panas. Konsulat memberikan transportasi gratis bagi pemilih yang tinggal di kota-kota sekitarnya.
Dalam pemilihan umum kali ini, warga tidak diperkenankan mengirimkan surat suara lewat pos seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Larangan itu merupakan hasil dari referendum Januari kemarin. Peraturan yang mengharuskan pemilik suara datang langsung ke TPS di kedutaan dan konsulat diduga akan menurunkan angka partisipasi mereka dalam pemilu kali ini.
Warga Mesir di negara asing yang punya hak pilih bisa tetap menyalurkan suaranya meskipun mereka berada di luar negeri bukan sebagai pemukim tetap. Orang yang tinggal sementara di luar negeri atau kebetulan sedang bepergian ke negara asing boleh langsung menuju TPS terdekat tanpa perlu mendaftar lebih dulu.
Para pejabat hari Rabu (14/5/2014) mengatakan, pemungutan suara di sejumlah negara terpaksa dibatalkan karena alasan keamanan. Termasuk di negara-negara seperti Suriah, Libya, Somalia dan Republik Afrika Tengah.
Dilansir Al-Ahram (16/5/2014), jurubicara Komisi Pemilihan Presiden Mesir Abdulaziz Salman mengatakan, pada hari pertama jumlah perantau yang memberikan suaranya di TPS di seluruh dunia mencapai 65.000 orang.
Sementara itu organisasi Islam terbesar di Mesir yang kini dinyatakan terlarang, Al-Ikhwan Al-Muslimun, mendesak agar warga di perantauan memboikot pemilihan presiden tahun ini. Kelompok itu menyerukan unjuk rasa damai memprotes pemilu yang akan digelar di Mesir pada 26-27 Mei.
Dalam pernyataannya hari Kamis (15/5/2014) dibawah slogan “Boikot Kepresidenan yang Berlumurah Darah”, Aliansi Nasional untuk Mendukung Legitimasi –bentukan Al-Ikhwan dan pendukungnya– mengatakan protes yang mereka lakukan merupakan kelanjutan dari revolusi menentang agenda politik di masa transisi.
Kelompok itu bersikukuh menyatakan bahwa Muhammad Mursy, yang dilengserkan menyusul demonstrasi besar oleh rakyat penentangnya pada 3 Juli 2013, sebagai presiden Mesir yang sah. Mereka menyebut Mursy sebagai “presiden yang diculik.”*