Hidayatullah.com–Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman ingin menghapus citra konservatif yang melekat pada negaranya.
Pangeran 32 tahun itu bertekad mengembalikan Saudi ke prinsip fundamentalnya sebagai negara terbuka.
”Kami hanya akan kembali menerapkan nilai yang selama ini kami yakini, yakni bahwa Saudi adalah negara Islam yang terbuka. Kami terbuka pada dunia dan agama apa pun,” ucap Mohammad dalam Future Investment Initiative, konferensi internasional di bidang ekonomi di Riyadh, Saudi, Rabu (24/10/20117), Ia berjanji menghapus ekstremisme dan radikalisme.
“Sebanyak 70 persen penduduk Arab Saudi berusia di bawah 30 tahun dan sejujurnya, kami tidak ingin menghabiskan 30 tahun lagi untuk menangani gagasan-gagasan destruktif tersebut. Kami akan menghancurkannya hari ini, “katanya kepada 2.000 investor yang menghadiri forum ekonomi di Riyadh.
Baca: Raja Salman Tunjuk Anaknya Sebagai Putera Mahkota Saudi
Mohammad Salman optimis dapat memajukan Arab Saudi ke arah lebih baik. Meninggalkan era 1979, mengacu pada bangkitnya politik Islam di tahun-tahun berikutnya setelah pembunuhan Raja Faisal di tahun 1975.
Awal 1970-an memicu perubahan besar di negara-negara penghasil minyak terbesar termasuk pengenalan televisi dan sekolah untuk anak perempuan.
Namun, perubahan tersebut terjadi setelah keluarga Al-Sheikh, yang mengendalikan peraturan agama dan sosial di Arab Saudi dan keluarga pemerintah Al-Saud, dengan perlahan memperkuat sebuah kebijakan konservatif yang identik dengan Riyadh.
”Kami akan melenyapkan semua itu dari Saudi sesegera mungkin,” janjinya. Lewat Vision 2030 yang dia gagas, putra Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud tersebut optimistis bisa memodernkan Saudi.
Mohammad mempersiapkan Saudi untuk menghadapi era baru, yakni era Saudi tak bergantung lagi pada minyak sebagai sumber pendapatan utama. ”Kami akan membangun kota baru di pesisir Laut Merah. Dari sana, kami akan memperkenalkan gaya hidup baru Saudi yang jauh berbeda,” katanya.
Pernyataan Pangeran Mohammad terbaru ini dinilai paling terbuka oleh seorang pejabat Arab Saudi.
Pangeran muda tersebut dianggap berada di balik keputusan Raja Salman untuk membatalkan larangan mengemudi dari Arab Saudi bulan lalu, kutip AFP.*