Hidayatullah.com–Otoritas di Teheran meresmikan sebuah monumen bagi para tentara Yahudi Iran yang tewas, yang terbunuh selama peperangan pahit dan panjang dengan Iraq dari tahun 1980 hingga 1988. Laporan mengenai jumlah kematian akibat konflik mengerikan itu berbeda-beda, tetapi perhitungan jumlah korban biasanya mencapai lebih dari 1 juta di kedua negara.
Demikian tulis reporter Washington Post Ishaan Tharoor dalam blognya yang dimuat Kamis (18/12/2014), di awal tulisan mengenai negeri Syiah Iran yang para petingginya di muka dunia internasional berkoar-koar memerangi Yahudi dan Zionis, tetapi di dalam negerinya sendiri penguasa Syiah begitu mesra dengan komunitas Yahudi. Berikut kutipannya dengan penyesuaian dan tambahan dari redaksi.
Sebuah upacara umum menandai pembukaan monumen peringatan itu pada hari Senin (15/12/2014), dengan pidato-pidato yang disampaikan dari atas mimbar berhiaskan bendera Iran dan sebuah menorah (tempat lilin berisi 7, salah satu lambang suci umat Yahudi). Spanduk-spanduk menunjukkan gambar dari para prajurit yang gugur, yang dielu-elukan sebagai “martir” dalam tulisan berbahasa Farsi (bahasa Persia) dan Hebrew (Ibrani)
Para pejabat Iran meresmikan sebuah monumen peringatan bagi orang-orang Yahudi yang bertempur dan gugur dalam perang Iran-Iraq tahun 1980-88, tulis Tharoor menyelipkan link foto peresmian itu pic.twitter.com/st0yLmvkXM yang dikutipnya dari akun Twitter @Iran Talks bertanggal 16 Desember 2014.
Peringatan itu mungkin mengejutkan mereka yang mengetahui kebiasaan dari Republik Islam (tepatnya Republik Syiah Iran, red), berupa retorika kemarahan yang ditujukan langsung ke arah Israel, “sebuah rezim Zionis” yang para mullah di Teheran menolak untuk mengakuinya. Namun (faktanya) setelah Israel, Iran memiliki jumlah komunitas terbesar Yahudi di Timur Tengah –dengan polulasi saat ini diperkirakaan antara 20.000 dan 30.000. (Lebih banyak lagi dari jumlah itu tinggal di negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Israel. Mantan presiden Israel Moshe Katsav [Arab: Musa Kasab] sendiri dulu dilahirkan di Iran.)

Pemerintah Iran memperhatikan kelangsungan populasi Yahudi di Iran, yang dipandang sebagai bagian dari keragaman budaya dan dianggapnya sebagai bagian dari kekayaan sejarah Iran. Kitab Ester dalam Perjanjian Lama berbasis dari Persia kuno dan merupakan dasar perayaan keagamaan “Purim” penganut Yahudi. (Bibel terdiri dari Perjanjian Lama (Old Testament) dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama yang juga disebut Alkitab Ibrani isinya sebenarnya adalah ajaran agama Yahudi, red).
Dalam acara peresmian hari Senin itu, wakil jurubicara parlemen Iran Mohammad Hassan Aboutorabi-Fard berkata, “Sikap terang-terangan masyarakat Yahudi dalam mendukung lembaga (negara) Republik Islam (tepatnya Syiah, red) dan kepatuhan mereka terhadap para Pemimpin Tertinggi Revolusi (para mullah pemuka Syiah, red) menunjukkan ikatan yang berasal dari ajaran agama-agama samawi.” Dia kemudian melanjutkannya dengan kecaman terhadap perilaku “kejam dan tidak berperikemanusiaan” yang ditunjukkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Mengutip laporan rekan kerjanya Jason Rezaian tahun lalu, Tharoor mengatakan sebenarnya komunitas Yahudi di Iran diuntungkan dengan pemerintahan baru yang dipimpin Presiden Hassan Rouhani, yang tampil sebagai figur yang lebih mendamaikan dibanding pendahulunya, seorang penyangkal holocaust Mahmoud Ahmadinejad. (Rezaian sekarang sudah dikurung dalam penjara Iran selama 5 bulan, ditahan tanpa tuduhan yang jelas)
Tahun lalu, Presiden Rouhani ditemani oleh satu-satunya orang Yahudi Iran yang menjadi anggota parlemen melakukan lawatan ke Amerika Serikat. Lewat akun @HassanRouhani di Twitter presiden Iran itu juga mengucapkan selamat hari raya Rosh Hashanah kepada seluruh orang Yahudi, terutama Yahudi Iran.
“Kami bukan penyewa di negeri ini. Kami adalah orang Iran, dan kami telah berada di sini selama 30 abad,” kata Ciamak Morsadegh, satu-satunya Yahudi yang menjadi anggota parlemen di Iran kepada Rezaian tahun lalu.
“Ada perbedaan antara kami sebagai orang Yahudi dan Israel,” kata seorang penjaga toko di kota bersejarah Isfahan. “Kami menganggap diri kami sendiri sebagai Yahudi Iran, dan itu tidak ada urusannya dengan Israel atau apapun. Ini adalah negara yang kami cintai,” ujarnya.
Namun pernyataan penjaga toko itu tentang tidak ada hubungannya Yahudi dan Israel tidak sesuai kenyataan, sebab ketika terjadi Revolusi 1979, yang disebut Iran sebagai Revolusi Islam padahal yang tepat adalah Revolusi Syiah yang dipimpin para mullah, kebanyakan Yahudi Iran pindah ke Israel atau negara lain yang paling mencintai Yahudi, yaitu Amerika Serikat. Sebagaimana disebutkan dalam laporan Jason Rezaian di Washington Post (2/10/2013), di tahun 1970an sebelum revolusi terdapat lebih dari 100.000 orang Yahudi dan terjadi eksodus masal ketika revolusi dan pendirian negara Republik Islam (Syiah) Iran. Orang-orang Yahudi di Amerika, dikenal militansinya dalam membela eksistensi negara Yahudi Israel dan memiliki posisi lobi yang sangat kuat terhadap Gedung Putih, Kongres dan Senat AS, bahkan ikut mengatur peta politik dan kebijakan Washington.*